Pada(adzan) awal Shubuh. (Lalu dilanjutkan dengan) "Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaah." (HR. An-Nasa'i, hadits ini shahih) 5. Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Bilal adzan jika matahari telah tergelincir, dan dia tidak mengurangi (sedikit pun dari lafazh adzan).
MUKADDIMAHPENULIS.. 5 ANJURAN SEGERA MENGERJAKAN SHALAT DZUHUR PADA AWAL WAKTU KETIKA PANAS TIDAK MENYENGAT.. 8 (1)-(360) Hadis Anas bin Malik t dia berkata: 8 Syarah Hadis:. 9 ANJURAN SEGERA MENGERJAKAN SHALAT ASHAR.. 13 (2)-(361) Hadis Anas bin Malik t dia berkata: 13 Syarah Hadis:. 14 (3)-(326) Hadis Anas bin Malik t dari Abu Umamah t dia
Syaikh Muhammad Al-Khidhir, (lahir di Limboro 4 September 1983), lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Khidhir atau bernama kuniyah Abu Ahmad adalah seorang alim ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yang aktif mengisi kajian Islam di Indonesia.Ia juga merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor, yang pondok pesantren ini dibangun di atas tanah wakaf dari keluarga besar
Rasulullahada tiga orang, yakni Abu Said al-Khudri, โAbdullah in Umar dan Abu Hurairah. Hadis yang bersumber dari Abu Said al-Khudri hanya diriwayatkan oleh satu orang imam, al-Bukhari, dengan mata rantai sanad yang terdiri dari โIyad ibn โAbdillahโ Zaid ibn AslamโMuhammad bin JaโfarโSaid ibn Abi Maryam. Begitu juga hadis yang
AdDarimi dalam kitab: an-Nikah, bab: Tunkahu al-Mar'atu 'ala Arba' (Wanita Dinikahi Lantaran Empat Perkara, (2/58)) dari jalannya; Ahmad 3/80, dari jalan Abu Sa'id al-Khudri dengan lafazh-lafazh yang beragam. Dan diriwayatkan oleh Ahmad dari jalan Abu Hurairah 2/428, dengan lafazh-lafazh berdekatan. Asbabul Wurud Hadits Ke-45:
Pendapatini tidak dapat diterima, disebabkan hadits dari Abu Sa'id al-Khudri serta hadits-hadits yang serupa maknanya disebut marfu' , itu artinya hadits tersebut shahih, yakni bisa di jadikan hujjah. Kedua, sebagaimana dikemukakakn oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwasannya larangan dalam penulisan hadits berlaku sejak masa permulaan islam. Hal
Rasulullahjuga bersabda dalam hadits Abu Sa'id al-Khudri : ููู
ููู ููุณูุชูุบููู ููุบููููู ุงูููู "Siapa yang menampakkan kecukupan niscaya Allah akan membuatnya kaya." (HR. al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1745) May 25, 2016 Edy Gojira artikel ku 1.
abusa'id membacakan hadits tentang petir; abu sa'id al-khudri; umar berkata tentang hidup; umar bin khaththab (khulafaur rasyidin kedua) al-hasan al-bashri berkata: "sabar adalah salah s umar bin abdul aziz bicara sabar 'ali berkata tentang sabar; umar berkata tentang sabar; ibnu taimiyah; kisah umar yang membuat rasul menangis; ubay bin
6 Abu Bakar Radhiyallahu anhu memiliki sifat lemah lembut dan pemaaf. Kisah terfitnahnya ibu kaum beriman 'Aisyah Radhiyallahu anhuma putri Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah bukti hasadnya (kedengkian) orang-orang munรขfiq terhadap Rasรปlullรขh Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Namun merupakan kebesaran Allรขh Azza wa
Daftarisi Biografi Sahabat Abu Sa'id Al-Khudri. 1. Riwayat Hidup 1.1 Lahir 1.2 Wafat. 2. Kisah-kisah 2.1 Baiat Langsung dengan Rasulullah SAW 2.2 Mengikuti 12 Kali Peperangan. 3. Penerus 3.1 Murid. 4. Referensi. Abu Sa'id Al-Khudri adalah orang ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam.
KY14EB0. Galat skrip tidak ada modul tersebut "Infobox". Sa'd bin Malik bin Sinan bahasa Arabุณุนุฏ ุจู ู
ุงูู ุจู ุณูุงู lahir 10 tahun sebelum Hijrah- 74 H/612-693 Myang terkenal dengan nama Abu Said al-Khudri ุฃุจู ุณุนูุฏ ุงูุฎุฏุฑู adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, dan juga termasuk sahabat Imam Ali as serta pembesar suku Anshar. Ia termasuk perawi hadis Ghadir. Ayahnya juga seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Ia turut serta dalam berbagai perang Nabi Muhammad saw. Dalam perang Shiffin dan Nahrawan ia berada di pihak Imam Ali as. Para sejarawan mengakui kefaqihan Abu Sa'id. Ahli rijal Syiah pun memuji kemampuannya. Kebanyakan sumber sejarah mencatat tahun wafatnya adalah 74 H, namun sebagian yang lain menuliskan bahwa tahun wafat Abu Sa'id satu tahun setelah Peristiwa Harrah pada tahun 64 H. Pusaranya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab rujukan berada di Madinah, Pemakaman Baqi. Silsilah Keluarga Sumber-sumber sejarah Islam tentang Abu Sa'id menerangkan Sa'd bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ubaid bin Abjar. [1] Julukannya adalah Abu Sa'id dikaitkan dengan nenek moyangnya Khudrah yang terkenal dengan nama Abjar. [2] Bani Khudrah adalah sekelompok masyarakat yang merupakan bagian dari bani Anshar. Malik bin Sinan ayah Abu Sa'id syahid dalam perang Uhud. [3] Ibunya adalah Anisah binti Abu Haritsah, berasal dari kabilah bani Najjar. [4] Kedudukan Kepribadian dan Agama Sumber-sumber sejarah mengenal bahwa Abu Sa'id adalah termasuk pembesar suku Anshar [5] dan mengakui kefakihannya. [6] Para sahabatnya mengenal Abu Sa'id dengan kehidupannya yang zuhud. Terkait dengan hal ini, Abu Na'im dalam kitab Hilyah al-Auliya[7] dan Ibnu Jauzi dalam Shifat al-Shafwah [8] menuliskan tentang kepribadiannya. Ahli Rijal Syiah juga menilai bahwa ia adalah seorang yang besar dan sangat memujinya,[9]Di antara sahabat Nabi ia berada dalam satu tingkatan dengan Salman dan Abu Dzar, dan diantara sahabat Imam Ali as berada dalam golongan "Ashfiyaโ penolong terpilih. [10] Dalam Rijal Kasysyi yang dinukilkan dari Imam Shadiq as dikatakan bahwa Abu Sa'id, memiliki sikap yang konsisten dalam beragama dan mengenal kebenaran. Dari Fadhl bin Syadzan juga diceritakan bahwa Abu Sa'id termasuk golongan yang pertama masuk Islam dari kalangan para sahabat. [11] Riwayat Abu Sa'id adalah salah seorang perawi kenamaan Nabi Muhammad saw. Suku Anshar dan Muhajirin meriwayatkan hadis darinya. [12] Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Sa'id yang berasal dari Nabi Muhammad sejumlah 1170, dan sebagian darinya dituliskan oleh pemilik kitab Shihah Sittah seperti Muslim dan Bukhari. [13] Buqa bin Khaul juga menuliskan banyak dari hadis-hadis tersebut di dalam Musnad Kabirnya. [14] Diantara riwayat-riwayat dan hadis-hadis yang dinukilkan oleh Abu Sa'id adalah hadis Ghadir yang merupakan hal yang sangat penting menurut orang Syiah. Ia juga meriwayatkan hadis dari sahabat-sahabat yang masyhur. Diantara orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa'id Khudri adalah sekelompok dari para sahabat masyhur Nabi seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik. Sangat banyak para tabiin seperti Sa'd bin Musabab, Atha bin Yasar dan Nafi' menjumpai Abu Sa'id. [15] Kedudukan Politik Semasa kehidupan Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as Abu Sa'id aktif dalam kehidupan politik. Ia berusia 13 tahun ketika ayahnya membawanya ke hadapan Nabi Muhammad saw untuk mengikutsertakan dalam perang Uhud, namun Nabi saw tidak memberikan ijin kepadanya karena usianya yang masih kecil. Setelah perang Uhud, ia turut serta dalam berbagai peperangan yang diikuti oleh Nabi Muhammad saw. [16]Waqidi, seorang penulis sejarah pada abad ke-3 dan ke-4 H menukilkan bahwa perang pertama kali yang diikuti oleh Abu Sa'id adalah perang Khandaq. [17] Ibnu Katsir 774 H berkata bahwa ia ikut serta dalam 12 peperangan Nabi Muhammad saw. [18] Pada zaman kekhalifahan Imam Ali as ia turut serta dalam perang Shiffin dan Nahrawan. [19] Abu Sa'id tidak memiliki hubungan pertemanan dengan bani Umayah dan pada berbagai kesempatan melancarkan kritikan kepada mereka diantaranya ketika Marwan bin Hakam mendahulukan khutbah Id sebelum melaksanakan Shalat Id. [20] Demikian juga ketika Muawiyah memerintah, ia pergi ke Syam untuk mengkritik pemerintahannya. [21] Mengenai bahwa Abu Sa'id pada tahun 73 H membaiat Abdul Malik bin Marwan secara tertulis, dan juga Abdul Malik sebelum kekhilafahannya, maka berdasarkan hadis dari Abu Sa'id [22] baik dari sisi zaman dan dari sisi jenis hubungan antara Abu Sa'id dan bani Umayah maka hal itu diragukan kebenarannya. Menurut perkataan Ibnu Qutaibah[23]Abu Sa'id dalam Peristiwa Harrah ketika terjadi serangan yang dilancarkan oleh pasukan Syam ke Madinah menjadikan ia berdiam di rumah, namun pasukan Syam menyerang rumah Abu Sa'id dan menginginkan uang dan harta darinya, namun karena mereka tidak menemukan apa-apa, maka mereka menyiksa Abu Sa'id. Dalam riwayat yang lain, Abu Sa'id lari ke gua dan salah satu pasukan Syam mengejar Abu Sa'id untuk membunuhnya, namun setelah mengenal Abu Sa'id pasukan Syam itu mengampuni Abu Sa'id [24] dan meminta Abu Sa'id untuk memintakan ampun supaya Allah mengampuninya. [25] Kematian Sebagian besar sejarawan menulis bahwa Abu Sa'id wafat pada tahun 74 H. [26] Namun sebagian yang lainnya menuliskan satu tahun setelah peristiwa Harrah. [27] Mereka berkata, ikhtidhar keadaan menjelang kematian Abu Sa'id berlangsung selama 3 hari. Berdasarkan dari referensi-referensi yang ada, ia dikuburkan di Madinah di Pemakaman Baqi. [28] Namun ada juga yang mengatakan bahwa kuburannya ada di Istanbul. [29] Catatan Kaki โ Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602. โ Thabari, Al-Muntakhab min Kitฤb Dzail al-Mudzil, jld. 11, hlm. 525. โ Ibnu Abdul Bar, Al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 1352. โ Khalifah bin Khayath, al-Thabaqฤt, jld. 1, hlm. 216. โ Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602, Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180; Ibnu Atsir, Usd al-Ghฤbah, jld. 2, hlm. 289. โ Ibnu Sa'ad, Thabaqฤt, jld. 2, hlm. 372; Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180; Abul Ishaq Syirazi, Thabaqฤt al-Fuqaha, hlm. 51; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughฤt, jld. 2, hlm. 237; Dzahabi, Siyar A'lฤm al-Nubalฤ, jld. 3, hlm. 170; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishฤbah, jld. 2, hlm. 35. โ Abu Na'im Isfahani, Hilyah al-Auliyฤ, jld. 1, hlm. 369-371. โ Ibnu jauzi, Sifah al-Shafwah, jld. 1, hlm. 715714. โ Barqi, Al-Rijฤl, hlm. 2. โ Barqi, Ahmad bin Muhammad, Al-Rijฤl, hlm. 3. โ Thusi, Ikhtiyฤr Ma'rifah al-Rijฤl, hlm. 30-38. โ Ibnu Abdul Bar, Al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602. โ Nuri, Tahdzib al-Asmฤ wa al-Lughฤh, 2/237. โ Dzahabi, Siyar A'lฤm al-Nubala, jld. 3, hlm. 171. โ Nawawi, Tahdzib al-Asmฤ wa al-Lughฤt, jld. 2, hlm. 237; Ibnu Atsir, Usd al-Ghฤbah, jld. 2, hlm. 289. โ Thabari, Muntakhab min Kitฤb dzail Mudzil, jld. 11, hlm. 525-52; Hakim Nisyaburi, Mustadrak al-Shahihin, jld. 3, hlm. 5 63; Ibnu Abdul Barr, al-Isti'ab, jld. 2, hlm. 602. โ Al-Isti'ฤb, jld. 1, hlm. 156. โ Al-Bidฤyah wa al-Nihฤyah, jld. 9, hlm. 4. โ Ibnu Habib, al-Muhabbar, hlm. 291; Khatib, Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180. โ Shafadi, al-Wฤfi bi al-Wฤfayฤt, jld. 15, hlm. 148. โ Ibnu Asakir, Tฤrikh Madinah Dimasq, jld. 7, hlm. 182-183, Mengenai penolakann Abu Said terhadap Muawiyah silahkan lihat Nashr bin Muzahim Minqari, Waq'ah Shiffin, hlm. 216. โ Ibnu Sa'ad, Thabaqฤt, jld. 5, hlm. 229-234. โ Al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 213 โ Ibnu Qutaibah, al-Imฤmah wa al-Siyฤsah, jld. 1, hlm. 213. โ Dzahabi, Tฤrikh al-Islฤm, jld. 3, hlm. 220-221. โ Khalifah bin Khayath, al-Thabaqฤt, jld. 1, hlm. 216, Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, jld. 11, hlm. 267 dan 526; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, jld. 6, hlm. 40; Ibnu Abdul Barr, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602; Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdad, jld. 1, hlm. 118. โ Ibnu Hayan, Masyฤhir Ulama al-Amshar, hlm. 11. โ Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah, Mustadrak al-Shahihain, jld. 2, hlm. 237. โ Isyli, 70-73, Necdet, Istanbulda sahabe kabir ue makamlan, Ankara, Renk ofset matbaacilik. Daftar Pustaka Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghฤbah. Beirut Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi. Ibnu Jauzi, Abdurahman bin Ali. Shifat ash-Shafwah. Muhammad Fakhuri dan Muhammad Rawas Qal'aji. Beirut 1406 H/1986. Ibnu Habib, Muhammad. Al-Muhabbar. Hydarabad Dekkan 1361 H/1954. Ibnu Hajar Asqalani Ahmad bin Ali. Al-Ishฤbah. Kairo 1328 H. Ibnu Hayan, Muhammad. Masyฤhir Ulama al-Amshฤr. Fulayisyhamir. Kairo 1379 H/1959. Ibnu Sa'ad, Muhammad. Thabaqฤt. Beirut Dar Shadir. Ibnu Abdul Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ฤb. Kairo 1380 H/1960. Ibnu Asakir, Ali bin Husain. Tฤrikh Madinah Dimasyq. Aman Dar al-Basyir. Ibnu Qutaibah. Al-Ma'ฤrif. Kairo Tsirwat Akasyah, 1960. Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Imฤmah wa as-Siyฤsah. Kairo 1388 H/1969. Abul Ishaq Syirazi, Ibrahim bin Ali. Thabaqฤt al-Fuqaha. Riset Ihsan Abas. Beirut 1401 H/1981. Abu Na'im Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Auliya. Kairo 1351 H/1959. Barqi, Ahmad bin Muhammad. Ar-Rijฤl. Riset Jalaluddin Muhadits. Teheran 1342 HS. Hakim Nisyaburi, Muhammad bin Abdullah. Mustadrak ash-Shahihain. Hydarabad Dekkan 1324 H. Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tฤrikh Bagdad. Kairo 1349 H. Khalifah bin Khayath. Ath-Thabaqฤt. Riset Suhail Zakar. Damaskus 1966. Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lฤm an-Nubala. Riset Syu'aib Arnaot dkk. Beirut 1405 H/1958. Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tฤrikh al-Islฤm. Kairo 1368 H. Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wฤfi bi al-Wฤfayฤt. Riset Brand Ratakeh Wisabadan, 1399 H/1979. Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu'jam al-Kabir. Riset Hamdi Abdul Majid Salafi. Baghdad 1399 H/1979. Thabari. Al-Muntakhab min Kitฤb Dzail Mudzil. Dilengkapi dengan Tarikh Thabari. Thusi, Muhammad bin Hasan. Ikhtiyฤr Ma'rifah ar-Rijฤl. Riset Hasan Musthafawi. Masyhad 1348 HS. Nashr bin Muzahim Minqari. Waqa'ah Shiffin. Riset Abdul Salam Muhammad Harun. Kairo 1382 H. Nawawi, Yahya bin Syaraf. Tahdzib al-Asma wa al-Lughat. Kairo Idarah al-Thaba'ah al-Musyiriyah. vte Sahabat Nabi sawEmigran ke Abyssinialaki-laki Ja'far bin Abi Thalib โข Abdullah bin Mas'ud โข Abdullah bin Jakfar โข Abdullah bin Abdul Asad โข Abu Ubaidah bin al-Jarrah โข Syurahbil bin Hasanah โข Khalid bin Sa'id โข Utsman bin Affan โข Abu Hudzaifah โข Miqdad bin Amr โข Mush'ab bin Umair โข Abdurrahman bin Awfwanita Ummu Salamah โข Ummu Habibah โข Asma binti Umais โข Ruqayyah โข Ummu Aiman โข Shafiyah binti Abdul Mutthalib โข Saudah binti Zam'at bin QaisMeninggal sebelum Hijrah ke Habasyahlaki-laki Abu Thalib โข Yasir bin 'Amirwanita Khadijah binti Khuwailid โข SumayyahMuhajirinlaki-laki Imam Ali as โข Hamzah โข Ammar bin Yasir โข Abu Dzar al-Ghifari โข Miqdad bin 'Amr โข Bilal al-Habsyi โข Arqam bin Abi Arqam โข Budail bin Warqa โข Abu Rafi' โข Abdullah bin Mas'ud โข Abbas bin Abdul Muththalib โข Khabbab bin Arat โข Usamah bin Zaidโข Abu Hudzaifah โข Abu al-'Ash bin Rabi' โข Thalhah โข Zubair bin 'Awwam โข Ibnu Abbas โข Salman al-Farisi โข Syurahbil bin Hasanah โข Khalid bin Sa'id โข Utsman bin Mazh'un โข Utsman bin Affan โข Sa'ad bin Abi Waqqash โข 'Amr bin Hamiq al-Khuza'i โข Shuhaib bin Sinan โข Abu Bakar โข Umar bin Khattab โข Zaid bin Haritsah โข Abu Ubaidah bin Jarrah โข Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muttalib โข Jabir bin Samurah โข Abdullah bin Umar โข Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalibwanita Fatimah az-Zahra sa โข Fatimah binti Asad โข Ummu Aiman โข Ummu Salamah โข Aisyah โข Zainab binti Jahsy โข Ruqayyah binti Muhammad โข Shafiyah binti Abdul Mutthalib โข Saudah binti Zam'at bin Qais โข Zainab binti Nabi saw โข Ummu Kultsum putri Nabi sawAnsharlaki-laki Jabir bin Abdillah al-Anshari โข Khuzaymah bin Tsabit โข As'ad bin Zurarah โข Abu al-Haitsam bin al-Tayyihan โข Abu Qatadah Anshari โข Sahl bin Hunaif โข Utsman bin Hunaif โข Abu Lubaba Anshari โข Zaid bin Arqam โข Buraidah bin Hushaib al-Aslami โข Abu Sa'id al-Khudri โข Hanzhalah bin Abi 'Amir โข Abu Ayyub al-Anshari โข Abu Thalhah โข Zaid bin Tsabit โข Bara' bin 'Azib โข Aus bin Tsabit โขSyaddad bin Aus โข Abu Dujanah โข Khubaib bin 'Adi โข Sa'ad bin 'Ubadah โข Sa'ad bin Mu'adz โข Hudzaifah bin Yaman โข Hassan bin Tsabit โข Muadz bin Jabal โข Bilal bin Harits โข Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah โข Abdullah bin Rawahah โข Sa'id bin Sa'ad โข Sahl bin Sa'ad Sa'idiwanita Ummu 'Umarah โข Rumaisha binti MilhanBadriyyunlaki-laki Imam Ali as โข Hamzah โข Sahl bin Hunaif โข Bilal al-Habasyi โข Abdullah bin Mas'ud โข Usman bin Mazh'un โข Shuhaib bin Sinan โข Abdullah bin Abdul Asad โข 'Ammar bin Yasir โข Miqdad bin 'Amr โข Abu al-Haitsam bin al-Tayyihan โข Ubay bin Ka'ab โข Basyir bin Sa'ad โข Mush'ab bin Umair โข Zaid bin Haritsah โข Ka'ab bin Amrwanita โขMemeluk Islam setelah Pembukaan Kota Mekahlaki-laki Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqas โข Abu Sufyan โข Muawiyah โข Kharijah bin Hudzafah โข Khirrit bin Rasyid al-Naji โข Jarud bin Mu'alla โข Mughirah bin Haritswanita โขSahabat lainlaki-laki Salman al-Farsi โข Aqil bin Abi Thalib โข Hanzalah bin Rabi' โข Sulaiman bin Shurad al-Khuzai โข Sa'ad bin Mas'ud al-Tsaqafi โข Hujr bin 'Adi โข Amru bin Ash โข Malik bin Nuwairah โข Khalid bin Walid โข Aban bin Sa'id โข Tamim al-Dari โข Abu Musa al-Asy'ari โข Mushayyib bin Najabah โข Amir bin Watsilahwanita Shafiyah binti Huyay โข Maimunah binti Harits โข Umamah binti Abi al-'Ash โข Fiddha Nabi Muhammad vte Jannatul BaqiSejarah Singkat Baitul Ahzan โข Monumen-monumen Baqi' โข Penghancuran Baqi โข Hari PenghancuranYang disemayamkanPara Imam Baqi Imam Hasan as โข Imam Sajjad as โข Imam Baqir as โข Imam Shadiq asPara Sahabat laki-laki As'ad bin Zurarah โข Utsman bin Mazh'un โข Sa'ad bin Mu'ad โข Asid bin Hudhair โข Mughirah bin Harits โข Ibnu Masud โข Suhaib bin Sinan โข Abu Sa'id al-Khudri โข Abbas bin Abdul Muththalib โข Abdullah bin Ja'far โข Aqil โข Jabir bin Abdillah al-AnshariKeluarga Nabi Halimah Sa'diah โข Ruqayyah putri Nabi โข Ibrahim Putra Rasulullah โข Zainab putri Rasulullah โข Ummu Kultsum putri Rasulullah โข Zainab putri Khuzaimah โข Mariyah al-Qibthiyah โข Zainab putri Jahsy โข Hafsah โข Shafiyah putri Huyai bin Akhtab โข Saudah โข Juwairiyah โข Aisyah โข Ummu Salamah Istri Nabi โข Shafiyah putri Abdul Mutthalib โข Atikah Lain-lain Fatimah binti Asad โข Ummul Banin โข Hasan al-Mutsanna โข Nafsu Zakiyah โข Ismail bin Ja'far โข Ummu Farwah โข Ibnu Syudqam โข Ahsai โข Muhammad Ali 'Amri Yang terkait Membangun Kuburan โข Ziarah Kubur โข Tabaruk โข Tahun 1220 Hijriah Qamariah โข Tahun 1344 hijriah Qamariah โข Abdur Rahim Fushuli โข Kaum Wahhabi vte Sahabat Imam Ali asSyurthah al-Khamis Salman โข Abu Dzar โข Miqdad โข 'Ammar โข Kumail โข Abu Sasan al-Anshari โข Abu Amr al-Anshari โข Qanbar โข Sahl bin Hunaif โข Utsman bin Hunaif โข Amr bin Hamq al-Khuza'i โข Maitsam at-Tammar โข Rusyaid al-Hajari โข Habib bin Muzhahir โข Muhammad bin Abi Bakr โข Malik al-Asytar โข Suwaid bin Ghafla al-Ju'fi โข Harith bin Abdillah โข Uwais al-Qarani โข Asbagh bin Nubatah โข Wahab bin Abdillah โข Sulaim bin Qais โข Sa'ad bin Harits โข Abdullah bin Yahya al-HadramiPara Syahid Perang Jamal Zaid bin Shauhan โข Hukaim bin JabalahPara Syahid Perang Shiffin Ibn Taihan โข Ammar โข Khuzaima โข Hasyim bin 'Utbah โข Suhail bin Amr โข Abd Allah bin Ka'ab โข Abu Hazim al-Bajali โข Ya'la bin Umaiyah โข Uwais al-Qarani โข Shafwan bin Hudzaifah โข Sa'ad bin Hudzaifah โข Abu Fudala al-Anshari โข Abd Allah bin Badil โข Abu 'Umra al-Anshari โข Jundab bin Zuhair โข Muhammad bin Sulaiman โข Abdullah bin Arqam โข Abdullah bin Abi HushainPara Syahid Perang Nahrawan Yazid bin Nuwayrah โข Za'ida bin Sumair โข Ru'ba bin Wabir โข Sa'ad bin Khalid โข Abdullah bin Hammad โข Faiyad bin Khalil โข Kaisum bin Salma โข 'Ubaid bin 'Ubaid โข Jumai' bin Jusyam โข Habib bin 'AsimPara Panglima Imam Hasan as โข Imam Husain as โข Malik al-Asytar โข Syuraih bin Hani โข Hujr bin 'Adi โข Hudayn bin Mundhir โข Hukaym bin Jabala โข Abu Qutadah โข Jariyah bin Qudamah โข Sa'id bin Qais โข Muhammad bin Abi Bakar โข Syabats bin Rab'i โข Ma'qal bin Qais โข Abu Ayyub al-Anshari โข Sahl bin Hunaif โข Asy'ats bin Qais al-Kindi โข Ibnu Abbas โข Harits bin Marra โข Sulaiman bin Surad โข Ziyad bin NadhrPerwakilan-perwakilan Sa'id bin Sa'ad โข Sa'ad bin Harits โข Sa'id bin Nimran al-Hamdani โข Rufa'a bin Syaddad โข Malik al-Asytar โข Abu Ayyub al-Anshari โข Sa'ad bin Mas'ud โข Abu Rafi' โข Hudayn bin Mundhir โข Asy'ats bin Qais al-Kindi โข Qais bin Sa'ad โข Wahab bin Abdillah โข Muhammad bin Abu Bakar โข Kumail โข Syaib bin Amir al-Azudi โข Sahl bin Hunaif โข Mundhar bin Jarud โข Mikhnaf bin Sulaim โข Ibn Abbas โข Umar bin Abi Salma โข Qutham bin Abbas โข Nu'man bin 'Ajlan โข Masqala bin Hubaira โข Ziyad bin Abihi โข 'Ammara bin SyahabPara Syahid Karbala Nafi' bin Hilal โข Hani bin 'Urwa โข Habib bin Muzhahir โข Abu Tsumamah al-Shaidi โข Sa'ad bin Harith โข Yazid bin Maghfil โข Hajjaj bin Masruq โข Nu'man bin 'Ajlan โข Burair bin Khudair โข Muslim bin Katsir al-Azdi โข Ammar bin Abi Salamah โข Syabib bin AbdullahPara Perawi Hadis al-Ghadir Sa'id bin Sa'ad โข Salman โข Sahl bin Sa'ad โข Hudzaifa bin Yaman โข Zadhan Abu 'Amr โข Zaid bin Arqam โข Jabir bin Abdillah โข Sulaim bin Qais โข Bara' bin 'Azib โข 'Amr bin Hamiq al-Khuza'iNakitsun Para Pelanggar Janji Zubair bin 'Awwam โข Thalhah bin UbaidillahKhawarij Ibnu Muljam โข Syimir โข Abdullah bin Wahab al-Rasibi โข Syabath bin Rab'i โข Abdullah bin Kawwa' โข Hurqus bin Zuhair โข Syuraih bin Awfa al-Abasi โข Farwa bin Nufil al-Asyja'i โข Abdullahbin Syajara โข Jira bin Sinan al-Asadi โข Zaid bin HusainPerawi Nauf al-Bikali โข Ibnu Abi laila โข 'Amir bin Watsilah โข Abul Aswad al-Duali โข Abdullah bin Jakfar โข Adi bin Hatim โข Abu Juhaifah โข Khaitsamah bin Abdurrahman โข Ahnaf bin Qais โข Dhirar bin DhamrahLian-Lain Abu al-Aswad al-Duali โข Syaddad bin Aws โข Aminah binti Syuraid โข Abu Sa'id al-Khudri โข Amir bin Watsilah โข Ubaidullah bin Abi Rafi' โข Abu Barza al-Aslami โข Habba bin Juwayn al-'Urani โข Khabbab bin Aratt โข Aqil โข Syarik bin al-A'war โข 'Abd al-Rahman bin Abi Laila โข Ka'ab bin Amr โข Abdullah bin Jakfar โข Abdullah bin Afif โข Thirimmah Imam Ali as
Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu adalah salah seorang ulamanya para sahabat. Ia termasuk seorang Anshar yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan termasuk yang terbanyak riwayatnya di antara sahabat lainnya. Nasabnya Nama dan nasab Abu Said al-Khudri adalah Saad bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin Tsaโlabah al-Abjar -Abjar adalah Khudrah- bin Auf bin al-Harits bin al-Khazraj al-Anshari al-Kahzraji. Yang masyhur dengan kun-yah Abu Said al-Khudri. Masa Rasulullah Abu Said bercerita, โRasulullah datang kepada kami. Kami adalah orang-orang biasa bukan tokoh dari kalangan kaum muslimin. Aku kira Rasulullah tidak mengenal salah seorang dari kami. Sebagian dari kami hampir-hampir tak berpakaian. Rasulullah mengisyaratkan bentuk lingkarangan dengan tangannya. Beliau bersabda, โDengan apa kalian saling mengingatkan?โ Mereka menjawab, โIni ada seseorang yang membacakan Alquran kepada kami dan mendakwahi kami.โ Beliau berkata, โSerulah! Mengapa kalian bersamanya.โ Kemudian beliau berkata, โSegala puji bagi Allah yang menjadikan untuk umatku seseorang yang aku perintahkan untuk bersama mereka.โ Beliau melanjutkan, โBerilah kabar gembira pada orang-orang beriman yang miskin bahwa mereka akan lebih dahulu masuk surge dibanding orang-orang kaya pada hari kiamat kelak dengan lama 500 tahun lebih awal. Mereka berada di dalam surga dan menikmati kenikmatannya. Sementara orang-orang kaya masih dihisab.โ HR. Abu Dawud. Masa Para Sahabat Saat orang-orang membaiat Yazid bin Muawiyah, cucu Nabi, Husein bin Ali radhiallahu anhuma tidak membaiatnya. Mendengar kabar tersebut, orang-orang Kufah mengirimi Husein surat. Mengajaknya untuk datang ke Kufah. Awalnya Husein menolak. Kemudian mereka mengajak Muhammad bin al-Hanafiyah saudara seayah dengan Husein bin Ali. Beliau pun menolak. Mereka kembali membujuk Husein, Husein berkata, โSesungguhnya mereka ini hendak memangsa kita dan bersemangat mengucurkan darah kita.โ Bujukan dan godaan orang-orang kufah ini membuat Husein risau. Terkadang beliau merasa condong kepada mereka. Terkadang ia tidak ingin keluar. Kemudian datanglah Abu Said al-Khudri, ia berekata, โHai Abu Abdullah kun-yah Husein, sungguh aku termasuk pemberi nasihat untuk Anda. Aku adalah orang yang menyayangimu. Sampai kabar padaku bahwa para pendukungmu di Kufah mengirimimu surat. Mereka mengajakmu menuju mereka. Jangan kau keluar! Sungguh aku mendengar ayahmu saat di Kufah, ia berkata, โDemi Allah, aku telah membuat mereka bosan dan marah. Mereka pun membuatku bosan dan marah. Tidak kudapati sifat memenuhi janji pada mereka. Siapa yang selamat dari mereka, dia telah selamat dari panah yang jelek. Demi Allah, tidak ada keteguhan dan ketetapan hati dalam suatu urusan. Tidak ada kesabaran pada mereka saat menghadapi pedang.โ Masa Tabiโin Pada saat terjadi kekacauan di Kota Madinah, Abu Said al-Khudri keluar dan bersembunyi di sebuah goa. Ia disusul oleh seorang pasukan Syam. Kata Abu Said, โSaat ia melihatku, ia hunus pedangnya menginginkanku. Saat ia dekat denganku, ia arahkan pedangnya padaku. Kutahan pedangku. Dan kubaca firman Allah, ุฅููููู ุฃูุฑููุฏู ุฃููู ุชูุจููุกู ุจูุฅูุซูู
ูู ููุฅูุซูู
ููู ููุชูููููู ู
ููู ุฃูุตูุญูุงุจู ุงููููุงุฑู ููุฐููููู ุฌูุฒูุงุกู ุงูุธููุงููู
ูููู โSesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalimโ. [Quran Al-Maidah 29] Mendengar hal itu, ia bertanya, โSiapa Anda?โ โAku Abu Said al-Khudriโ, jawabku. โSahabatnya Rasulullah?โ tanyanya. โIyaโ, jawabku. Ia pun berlalu dan meninggalkanku. Riwayat Abu Said โ Dari Ismail bin Raja bin Rabiโah dari ayahnya. Ia berkata, โKami bersama Abu Said al-Khudri saat ia sedang sakit yang mengantarkannya pada wafat. Ia mengalami pingsan. Kemudian saat tersadar, kami berkata padanya, Shalat, Abu Saidโ. Ia berkata, Kafanโ. Abu Bakr perwari berkata, Ia menginginkan kafan. Kemudian ia menyebutkan beberapa hadits yang ia riwayatkan dari Nabiโ.โ โ Terdapat suatu riwayat ุญูุฏููุซูููุง ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ู
ูุณูููู
ูุฉู ุนููู ู
ูุงูููู ุนููู ุนูุจูุฏู ุงูุฑููุญูู
ููู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูููููู ุจููู ุนูุจูุฏู ุงูุฑููุญูู
ููู ุจููู ุฃูุจูู ุตูุนูุตูุนูุฉู ุนููู ุฃูุจูููู ุนููู ุฃูุจูู ุณูุนููุฏู ุงููุฎูุฏูุฑูููู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ุฃูููููู ููุงูู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ูููุดููู ุฃููู ููููููู ุฎูููุฑู ู
ูุงูู ุงููู
ูุณูููู
ู ุบูููู
ู ููุชูุจูุนู ุจูููุง ุดูุนููู ุงููุฌูุจูุงูู ููู
ูููุงููุนู ุงููููุทูุฑู ููููุฑูู ุจูุฏูููููู ู
ููู ุงููููุชููู โTelah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu ShaโShaโah dari bapaknya dari Abu Saโid Al Khudri bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โHampir saja terjadi suatu zaman harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnahโ.โ HR. Al-Bukhari. โ Abu Said al-Khudri meriwayatkan sebuah hadits ููุฏูุฎููู ุฃููููู ุงููุฌููููุฉู ุงููุฌููููุฉูุ ููุฃููููู ุงููููุงุฑู ุงููููุงุฑูุ ุซูู
ูู ูููููููู ุงูููู ุชูุนูุงููู ุฃูุฎูุฑูุฌูููุง ู
ููู ููุงูู ููู ููููุจููู ู
ูุซูููุงูู ุญูุจููุฉู ู
ููู ุฎูุฑูุฏููู ู
ููู ุฅูููู
ูุงููุ ููููุฎูุฑูุฌููููู ู
ูููููุง ููุฏ ูุงุณูููุฏูููุง ูููููููููููู ููู ููููุฑู ุงููุญูููุงุกู -ุฃููู ุงููุญูููุงุฉูุ ุดูููู ู
ูุงูููู- ููููููุจูุชููููู ููู
ูุง ุชูููุจูุชู ุงููุญูุจููุฉู ููู ุฌูุงููุจู ุงูุณููููููุ ุฃูููู
ู ุชูุฑู ุฃููููููุง ุชูุฎูุฑูุฌู ุตูููุฑูุงุกู ู
ูููุชูููููุฉูุ โSetelah penghuni Surga masuk ke Surga, dan penghuni Neraka masuk ke Neraka, maka setelah itu Allah pun berfirman Keluarkan dari Neraka orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi iman!โ Maka mereka pun dikeluarkan dari Neraka. Hanya saja tubuh mereka sudah hitam legam bagaikan arang. Lalu mereka dimasukkan ke sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh berubah, sebagaimana tumbuhnya benih yang berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau perhatikan, bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat?โ HR. Al-Bukhari dari Abu Saโid al-Khudriy Radhiyallahu anhu. โ Abu Said juga meriwayatkan sebuah hadits ุญูุฏููุซูููุง ู
ูุญูู
ููุฏู ุจููู ุนูุจูููุฏู ุงูููููู ููุงูู ุญูุฏููุซูููุง ุฅูุจูุฑูุงูููู
ู ุจููู ุณูุนูุฏู ุนููู ุตูุงููุญู ุนููู ุงุจููู ุดูููุงุจู ุนููู ุฃูุจูู ุฃูู
ูุงู
ูุฉู ุจููู ุณููููู ุจููู ุญููููููู ุฃูููููู ุณูู
ูุนู ุฃูุจูุง ุณูุนููุฏู ุงููุฎูุฏูุฑูููู ููููููู ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ุจูููููุง ุฃูููุง ููุงุฆูู
ู ุฑูุฃูููุชู ุงููููุงุณู ููุนูุฑูุถูููู ุนูููููู ููุนูููููููู
ู ููู
ูุตู ู
ูููููุง ู
ูุง ููุจูููุบู ุงูุซููุฏูููู ููู
ูููููุง ู
ูุง ุฏูููู ุฐููููู ููุนูุฑูุถู ุนูููููู ุนูู
ูุฑู ุจููู ุงููุฎูุทููุงุจู ููุนููููููู ููู
ููุตู ููุฌูุฑูููู ููุงูููุง ููู
ูุง ุฃููููููุชู ุฐููููู ููุง ุฑูุณูููู ุงูููููู ููุงูู ุงูุฏููููู Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidillah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Saโd dari Shalih dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif bahwasanya dia mendengar Abu Said Al Khudri berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โKetika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka mengenakan baju, diantaranya ada yang sampai ke buah dada dan ada yang kurang dari itu. Dan dihadapkan pula kepadaku Umar bin Al Khaththab dan dia mengenakan baju dan menyeretnya. Para sahabat bertanya โApa maksudnya hal demikian menurut engkau, ya Rasulullah?โ Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab โAd-Din agama.โ HR. Al-Bukhari. โ Riwayat berikutnya ุนููู ุฃูุจููู ุณูุนูููุฏู ุงููุฎูุฏูุฑูููู ููุงููุชู ุงููููุณูุงุกู ููููููุจูููู ุบูููุจูููุง ุนููููููู ุงูุฑููุฌูุงูู, ููุงุฌูุนููู ููููุง ููููู
ูุง ู
ููู ููููุณููู. ููููุนูุฏูููููู ููููู
ูุง ููููููููููู ูููููู ููููุนูุธูููููู ููุฃูู
ูุฑูููููู, ููููุงูู ููููู
ูุง ููุงูู ููููููู ู
ูุง ู
ูููููููู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ุชูููุฏููู
ู ุซููุงูุซูุฉู ู
ููู ููููุฏูููุง ุฅููุงูู ููุงูู ููููุง ุญูุฌูุงุจูุง ู
ููู ุงููููุงุฑู. ููููุงููุชู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ููุงุซูููููููุ ููููุงูู ููุงุซููููููู. Dari Abu Saโid al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi โKaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kamiโ. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu โTidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari nerakaโ. Seorang wanita bertanya โBagaimana kalau Cuma dua?โ. Nabi menjawab โSekalipun Cuma duaโ HR. Al-Bukhari. Al-Khatib al-Baghdadi berkata tentang Abu Said al-Khudri, โDia termasuk sahabat yang paling utama dan penghafal hadits yang banyak.โ Wafat Ada beberapa pendapat tentang tahun wafat Abu Said al-Khudri. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 74 H. Ada pula yang mengatakan 64 H. Al-Madaini mengatakan, โIa wafat tahun 63 Hโ. Sedangkan al-Askari mengatakan, โIa wafat tahun 65 H.โ Semoga Allah meridhainya. Diterjemahkan dari Oleh Nurfitri Hadi nfhadi07 Artikel KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28
HAK-HAK JALANOleh Ustadz Arif Syarifuddin LcAbu Saโid Al Khudri Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุฅููููุงููู
ู ููุงููุฌููููุณู ุนูููู ุงูุทููุฑูููุงุชูุ ููููุงูููุง ู
ูุง ููููุง ุจูุฏูู ุฅููููู
ูุง ูููู ู
ูุฌูุงููุณูููุง ููุชูุญูุฏููุซู ูููููุงุ ููุงูู ููุฅูุฐูุง ุฃูุจูููุชูู
ู ุฅููููุง ุงููู
ูุฌูุงููุณู ููุฃูุนูุทููุง ุงูุทููุฑูููู ุญููููููุงุ ููุงูููุง ููู
ูุง ุญูููู ุงูุทููุฑููููุ ููุงูู ุบูุถูู ุงููุจูุตูุฑู ููููููู ุงููุฃูุฐูู ููุฑูุฏูู ุงูุณููููุงู
ู ููุฃูู
ูุฑู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ูููููููู ุนููู ุงููู
ูููููุฑู.โJanganlah kalian duduk-duduk di tepi jalanan,โ mereka para sahabat berkata,โSesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.โ Beliau berkata,โJika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut,โ mereka bertanya,โApa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?โ Beliau menjawab,โMenundukkan membatasi pandangan, tidak mengganggu menyakiti orang, menjawab salam, memerintahkan kepada yang maโruf dan mencegah dari yang mungkarโ. Takhrij Hadits Muttafaun alaihi. Hadits ini diriwayatkan oleh al Bukhari dalam Shahih-nya di kitab Fathul Bari di kitab al Mazhalim wal Ghashab, hadits no. 2465 dan di kitab al Istiโdzan, hadits no. 6229; Muslim dalam Shahih-nya dengan syarah an Nawawi di kitab al Libaas waz Ziinah, hadits no. 2121 dan di kitab as Salam, hadits no. Perawi Hadits Abu Saโid Al Khudri Radhiyallahu anhu. Beliau bernama Saโad bin Malik bin Sinan bin Ubaid dari Bani Khudrah -al Abjar- bin Auf al Khazraji al Anshari, lebih dikenal dengan sebutan Abu Saโid al Khudri. Dilahirkan di kota Madinah. Beliau dan ayahnya termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang saat terjadi peperangan Uhud, beliau masih kecil, sehingga tidak dapat ikut serta dalam peperangan, namun ayahnya, Malik bin Sinan mengikutinya dan mati syahid dalam peperangan perang Uhud, beliau ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam 12 peperangan dimulai dari perang Khandak. Beliau salah satu ulama dan fuqaha para sahabat, banyak mendengar dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan dari beberapa sahabat wafat di Madinah pada tahun 74 H, atau ada pula yang menyebutkan beliau wafat 10 tahun sebelumnya, yaitu antara tahun 63-65H. Wallahu aโlam.[1]Makna Hadits Secara Ringkas Suatu saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berjalan melewati beberapa orang sahabat yang sedang duduk-duduk di pekarangan rumah salah seorang dari mereka. Di antara mereka adalah Abu Thalhah Radhiyallahu anhu, lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam menegur mereka agar tidak melakukan hal itu. Namun para sahabat menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , bahwa mereka perlu duduk-duduk untuk memperbincangkan suatu urusan. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada mereka, bahwa jika memang hal itu diperlukan dan tidak bisa ditinggalkan, maka mereka wajib memenuhi hak-hak orang lain yang melewati mereka, di antaranya yang disebutkan dalam hadits ini ada empat macam hak, yaituMenundukkan membatasi pandangan dari melihat para wanita yang bukan mahramnya yang melewatinya atau hal-hal yang diharamkanTidak mengganggu menyakiti orang dengan ucapan maupun salamMemerintahkan manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan Hadits Al Imam an Nawawi berkata,โHadits ini banyak mengandung pelajaran yang penting dan termasuk di antara sederetan hadits-hadits jamiโ yang ringkas tetapi penuh makna, lagi jelas hukum-hukumnya.โ[2]Penjelasan dan Faidah-Faidah HaditsKata-kata ุฅููููุงููู
ู ููุงููุฌูููููุณูโฆ metode seperti ini, biasanya digunakan untuk memberi peringatan sebagai perintah agar menjauhi sesuatu yang buruk dan maknanya sama dengan melarangnya. Jadi maknanya adalah โjauhilah oleh kalian hal tersebutโ atau โjanganlah kalian melakukan hal ituโ. Seperti dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุฅููููุงููู
ู ููุงููููุฐูุจู[3] yang artinya, โjauhilah perkataan dustaโ atau โjanganlah kalian berdustaโ.Tapi apakah suatu perintah itu harus berarti wajib, atau apakah suatu larangan harus berarti haram? Kita akan simak jawabannya pada penjelasan berikutnya dalam tulisan ุงูุทููุฑูููุงุช adalah bentuk jamak dari ุงูุทููุฑูู, sedangkan ุงูุทููุฑูู adalah bentuk jamak dari ุงูุทููุฑููู yang artinya adalah Imam al Bukhari menyebutkannya dalam judul bab untuk hadits ini di kitab al Mazhalim dengan ungkapan ุงูุตููุนูุฏูุงุช guna menunjukkan kesamaan makna antara keduanya. Hal itu dikuatkan oleh hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu dalam Shahih Muslim, hadits no. 2161 ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan dengan kata ุงูุตููุนูุฏูุงุช dan Imam Muslim menyebutkannya dalam judul bab untuk hadits ini di kitab as Salam dengan kata ุงูุทููุฑูููู.Kemudian Imam al Bukhari -dalam judul bab yang sama di kitab al Mazhalimโ menyebutkan kata ุฃูููููููุฉ ุงูุฏูููุฑู, yang artinya adalah pekarangan halaman rumah, guna menunjukkan kesamaan hukumnya dengan jalanan selama pekarangan atau halaman rumah tersebut terbuka dan biasa dilewati oleh orang banyak.Dan itu didukung dengan hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu dalam riwayat Muslim, ketika Abu Thalhah Radhiyallahu anhu berkataูููููุง ููุนููุฏูุง ุจูุงูุฃูููููููุฉูุ ููุฌูุงุกู ุฑูุณูููู ุงูููู e ููููุงูู ู
ูุงููููู
ู ููููู
ูุฌูุงููุณู ุงูุตููุนูุฏูุงุชูโKetika kami sedang duduk-duduk di halaman pekarangan rumah, lalu datanglah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berkata,โKenapa kalian duduk-duduk di tepi jalanan?โ.โSaโid bin Manshur menambahkan โdengan menukil- dari Mursal Yahya bin Yaโmur ungkapan berikutููุฅููููููุง ุณูุจูููู ู
ููู ุณูุจููู ุงูุดููููุทูุงูู ุฃููู ุงููููุงุฑูSesungguhnya tepi jalanan itu adalah salah satu dari jalan-jalan setan atau neraka. Lihat Fathul Bari, 11/12-13.Itulah alasan kenapa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang mereka duduk-duduk di tepi jalanan atau pula warung-warung dan balkon-balkon yang tinggi yang berada di atas orang-orang yang lewat. Fathul Bari, 5/135.Perkataan para sahabat โsesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincangโ.Dalam riwayat Muslim hadits no. 2161 dari hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu terdapat tambahan kata-kata โdan untuk saling mengingatkan menasihatiโ. Dan dari riwayat ini pula diketahui, bahwa yang mengucapkan perkataan tersebut adalah Abu Thalhah Radhiyallahu anhu. Lihat Fathul Bari, 5/135.Al Qadhi Iyadh berkata,โDalam perkataan sahabat tersebut terdapat dalil yang menunjukkan, bahwa perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka itu tidak untuk kewajiban, melainkan bersifat anjuran dan keutamaan. Karena, kalau mereka memahaminya sebagai kewajiban, tentu mereka tidak akan merajuk kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti itu. Dan hal ini dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa perintah-perintah itu tidak mengandung kewajiban.โIbnu Hajar rahimahullah berkomentar โNamun, ada kemungkinan bahwa mereka mengharapkan adanya nasakh penghapusan hukum kewajiban tersebut untuk meringankan apa yang mereka adukan perihal keperluan mereka melakukan hal itu, dan hal ini didukung oleh apa yang tersebut dalam Mursal Yahya bin Yaโmur, di sana terdapat kata-kata maka mereka mengira bahwa hal itu merupakan keharusan kewajibanโ.โ Fathul Bari, 11/13.Perkataan โjika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk , maka berilah hak jalan tersebutโ.Ibnu Hajar berkata,โDari alur pembicaraan ini jelaslah, bahwa larangan duduk-duduk di tepi jalanan atau semisalnya, pen. dalam hadits ini adalah untuk tanzih yang bermakna makruh bukan haram, agar tidak mengendurkan orang yang duduk-duduk untuk memenuhi hak jalan yang wajib ia penuhiโ. Fathul Bari, 5/135.Imam an Nawawi rahimahullah berkata, โโฆ dan maksudnya adalah bahwa duduk-duduk di tepi jalanan itu dimakruhkanโ. Syarh Shahih Muslim, 14/120.Perkataan โhak jalan adalah ghadhdhul bashar menundukkan pandangan, kafful adza tidak mengganggu atau menyakiti orang, menjawab salam, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaranโ.Ibnu Hajar rahimahullah berkata,โMaka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan ghadhdhul bashar menundukkan pandangan untuk mengisyaratkan keselamatan dari fitnah karena lewatnya para wanita yang bukan mahram maupun yang lainnya. Menyebutkan kafful adza tidak mengganggu atau menyakiti orang untuk mengisyaratkan keselamatan dari perbuatan menghina, menggunjing orang lain ataupun yang serupa. Menyebutkan perihal menjawab salamโ untuk mengisyaratkan keharusan memuliakan atau mengormati orang yang melewatinya. Menyebutkan perihal memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaranโ untuk mengisyaratkan keharusan mengamalkan apa yang disyariโatkan dan meninggalkan apa yang tidak disyariโatkan.โBeliau melanjutkan,โDalam hal ini terdapat dalil bagi yang berpendapat bahwa saddudz dzara-i menutup jalan menuju keburukan merupakan bentuk keutamaan saja bukan suatu kewajiban, karena dalam hadits ini, pertama kali yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam larang adalah duduk-duduk di tempat tersebut guna memberhentikan mereka dari hal itu. Lalu ketika para sahabat mengatakan โkami perlu duduk-dudukโ, barulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tujuan pokok dari larangan beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga diketahuilah, bahwa larangan yang pertama kali itu adalah untuk mengarahkan kepada yang lebih baik. Dari sini pula diambil kaidah, bahwa mencegah keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan kebaikanโ.โ Fathul Bari, 5/135.Imam an Nawawi rahimahullah berkata,โNabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengisyaratkan tentang alasan larangan beliau, bahwa hal itu dapat menjerumuskan kepada fitnah dan dosa ketika ada para wanita yang bukan mahramnya atau selainnya yang melintasi mereka, dan bisa berlanjut hingga memandang ke arah wanita-wanita tersebut secara bebas, atau membayangkannya, berprasangka buruk terhadap wanita-wanita tersebut, atau terhadap setiap orang yang lewat. Dan di antara bentuk mengganggu atau menyakiti manusia adalah menghina mengejek orang yang lewat, berbuat ghibah menggunjingya atau yang lainnya, atau terkadang tidak menjawab salam mereka, tidak melakukan amar maโruf nahi mungkar, serta alasan-alasan lainnya yang bila dia berada di rumah dapat selamat dari hal-hal seperti itu. Termasuk menyakiti orang lain pula bila mempersempit jalan orang-orang yang ingin lewat, atau menghalangi para wanita, atau yang lainnya yang ingin keluar menyelesaikan kebutuhan mereka dikarenakan ada orang-orang yang duduk di tepi jalananโฆโ Syarah Shahih Muslim, 14/120.Tentang โmenundukkan menahan pandanganโ, Allah Subhanahu wa Taโala telah berfirman ูููู ููููู
ูุคูู
ูููููู ููุบูุถูููุง ู
ููู ุฃูุจูุตูุงุฑูููู
ู ููููุญูููุธููุง ููุฑููุฌูููู
ู ุฐููููู ุฃูุฒูููู ููููู
ู ุฅูููู ุงูููููู ุฎูุจููุฑู ุจูู
ูุง ููุตูููุนูููู. ููููู ููููู
ูุคูู
ูููุงุชู ููุบูุถูุถููู ู
ููู ุฃูุจูุตูุงุฑูููููู ููููุญูููุธููู ููุฑููุฌูููููู โฆ..Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman โHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuatโ. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman โHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya โฆโ [an Nur/24 30-31].Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Saโdi rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut,โYakni, bimbinglah kaum Mukminin, dan katakan kepada mereka yang memiliki iman, bahwa di antara yang dapat mencegah mereka terjatuh ke dalam perkara yang merusak iman adalah dengan menundukkan menahan pandangan mereka dari melihat aurat, para wanita yang bukan mahram dan lelaki amrad yang berparas elok, yang dikhawatirkan bisa berpotensi menimbulkan fitnah syahwat bila memandangnya. Demikian pula perhiasan dunia yang dapat memfitnah dan menjerumuskan ke dalam laranganโฆโBeliau juga mengatakan,โDan katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannyaโฆ,โ yakni dari melihat aurat, para lelaki bukan mahram dengan syahwat dan pandangan lain yang dilarang โฆโ[4]Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali Radhiyallahu anhu ููุง ุนูููููู ููุง ุชูุชูุจูุนู ุงููููุธูุฑูุฉู ุงููููุธูุฑูุฉู ููุฅูููู ูููู ุงููุฃููููู ููููููุณูุชู ูููู ุงููุขุฎูุฑูุฉูWahai Ali, jangan kamu iringi pandangan dengan pandangan lain, dibolehkan bagimu yang pertama saja sementara yang kedua tidak boleh.[5]Maksud pandangan yang pertama adalah yang tak disengaja, statusnya dimaafkan dan tak berdosa. Adapun pandangan kedua adalah yang disengaja yang kafful adzaโ tidak mengganggu dan menyakiti orang -dengan ucapan maupun perbuatan-, maka merupakan salah satu ciri penting seorang muslim sejati, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,ุงููู
ูุณูููู
ู ู
ููู ุณูููู
ู ุงููู
ูุณูููู
ูููู ู
ููู ููุณูุงูููู ูู ููุฏูููMuslim yang sempurna adalah yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lidahnya dan tangannya. [HR Muslim dari Jabir Radhiyallahu anhu]Dan kafful adzaโ termasuk salah satu bentuk akhlak bin al Mubarak, ketika mensifati tentang akhlak yang mulia, ia berkata ูููู ุจูุณูุทู ุงููููุฌููู ููุจูุฐููู ุงููู
ูุนูุฑูููู ููููููู ุงูุฃูุฐูู.Yaitu bermuka manis, memberi kebaikan dan tidak mengganggu menyakiti terhadap orang lain. [Diriwayatkan oleh at Tirmidzi, hadits no. 2005].Berkaitan dengan โmenjawab salamโ, itu merupakan kewajiban, dan hendaknya menjawab dengan jawaban yang serupa, atau yang lebih baik sebagaimana dalam firman Allah Subhnaahu wa Taโala,ููุฅูุฐูุง ุญููููููุชูู
ู ุจูุชูุญููููุฉู ููุญูููููุง ุจูุฃูุญูุณููู ู
ูููููุง ุฃููู ุฑูุฏูููููุงDan jika kamu diberi suatu penghormatan salam, maka balaslah penghormatan salam itu dengan yang lebih baik, atau balaslah ia dengan yang serupaโฆ[6] [an Nisaa/4 86].Jadi, menjawab salam adalah kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim yang memberi salam kepadanya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุญูููู ุงููู
ูุณููููู
ู ุนูููู ุงููู
ูุณูููู
ู ุฎูู
ูุณู ุฑูุฏูู ุงูุณูููุงูู
ู ูู ุนูููุงุฏูุฉู ุงููู
ูุฑููุถู ูู ุงุชููุจูุงุนู ุงููุฌูููุงุฆูุฒู ูู ุฅูุฌูุงุจูุฉู ุงูุฏููุนูููุฉู ูู ุชูุดูู
ูููุชู ุงููุนูุงุทูุณูHak seorang muslim atas muslim yang lain ada lima. Yaitu menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan dan mendoโakan yang bersin. [Muttafaqun alaihi, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]Tentang โmemerintahkan kepada yang maโruf dan mencegah dari yang mungkarโ, maka Allah Subhanahu wa Taโala telah memerintahkannya dalam firmanNya ููููุชูููู ู
ููููููู
ุฃูู
ููุฉู ูููุฏูุนูููู ุฅูููู ุงููุฎูููุฑู ููููุฃูู
ูุฑูููู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ููููููููููู ุนููู ุงููู
ููููุฑูุ ููุฃูููููุฆููู ููู
ู ุงููู
ูููููุญููููDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang maโruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. [Ali Imran/3 104].Dan di antara wasiat Luqman kepada anaknya ููุง ุจูููููู ุฃูููู
ู ุงูุตูููุงูุฉู ููุฃูู
ูุฑู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ููุงูููู ุนููู ุงููู
ูููููุฑู ููุงุตูุจูุฑู ุนูููู ู
ูุง ุฃูุตูุงุจูููHai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamuโฆ [Luqman/31 17].Merealisasikan amar maโruf nahi mungkar merupakan salah satu sebab utama diperolehnya kebaikan dan kejayaan oleh pendahulu umat ini para sahabat Radhiyallahu anhum, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Taโala ููููุชูู
ู ุฎูููุฑู ุฃูู
ููุฉู ุฃูุฎูุฑูุฌูุชู ููููููุงุณู ุชูุฃูู
ูุฑูููู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ููุชููููููููู ุนููู ุงููู
ูููููุฑู ููุชูุคูู
ูููููู ุจูุงููููKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maโruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah โฆ [Ali Imran/3 110].Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ููุฃูู
ูุฑู ุจูุงููู
ูุนูุฑูููู ุตูุฏูููุฉู ูููููููู ุนููู ู
ูููููุฑู ุตูุฏูููุฉู dan menyuruh manusia kepada yang baik adalah shadaqah, dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar adalah shadaqah โฆ [HR Muslim, hadits no. 1674].Demikianlah hak-hak dan adab-adab ketika seseorang duduk-duduk di tepi jalanan, atau yang semisalnya. Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan adab-adab atau hak-hak jalan yang lain sebagai berikut Berkata yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu.[7]Memberi petunjuk jalan kepada musafir dan menjawab orang yang bersin jika dia bertahmid[8]sebagaimana terkandung dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu orang yang kesusahan dan menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat, sebagaimana tertuang dalam hadits Umar Radhiyallahu anhu dalam riwayat Abu Dawud,[9] demikian juga dalam Mursal Yahya bin Yaโmur dan dalam riwayat al orang yang terzhalimi dan menebarkan salam, seperti dijelaskan dalam hadits al Barraโ Radhiyallahu anhu dalam riwayat Ahmad dan At orang yang membawa beban berat, sebagaimana tertuang dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dalam riwayat al berdzikir kepada Allah, sebagaimana teriwayatkan dalam hadits Sahl bin Hanif Radhiyallahu anhu dalam riwayat ath orang yang bingung, seperti yang terpaparkan dalam hadits Wahsyi bin Harb Radhiyallahu anhu dalam riwayat Ath Ibnu Hajar mengatakan โSemua yang terdapat dalam hadits-hadits tersebut ada empat belas adabโ. Fathul Bari, 11/13.Hal-hal yang tersebut di atas mengandung faidah tentang kesempurnaan Islam yang mengajarkan kepada umatnya tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk yang berkaitan dengan hak-hak jalan dan adab-adab ketika duduk-duduk di tempat-tempat yang biasa dilewati oleh khalayak manusia. Sekaligus menunjukan, kebaikan dan keindahan ajaran Islam, yakni apabila hal-hal di atas diamalkan oleh manusia, niscaya akan mendatangkan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan mereka di aโ Bari bi Syarhi Shahih al Bukhari, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Shahih Muslim, oleh Al Imam an Abu at al Imam al Jamiโ ash Shaghir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Bidayah wan Nihayah, oleh al Imam Ibnu at Tahdzib, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo โ Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Lihat al Ishabah 3/66, al Bidayah wan Nihayah 9/4 dan at Taqrib, hlm. 232 urutan no. 2253. [2] Syarh Shahih Muslim, 14/86 [3] Hadits shahih, riwayat Ahmad 1/384 dan 432 dan Abu Dawud no. 4337 dari Abdullah bin Masโud. [4] Taisir al Karim ar Rahman fi Tafsir al Kalam al Mannan, tafsir QS an Nur/24 ayat 30-31 [5] HR Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, dan al Hakim dari Buraidah Radhiyallahu anhu. Dihasankan derajatnya oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Jamiโ ash Shaghir, no. 7953 [6] Yakni, misalnya bila ada seseorang memberi salam dengan mengucapkan โassalamuโalaikumโ, maka minimal, kita jawab dengan bentuk serupa, yaitu โwaโalaikumussalamโ, atau dengan yang lebih baik, yaitu โwaโalaikumussalam warahmatullahโ, dan seterusnya. [7] Shahih Muslim, no. 2161. [8] Yakni, bila seorang yang bersin mengucapkan โalhamdulillahโ, maka yang mendengar wajib mendoโakannya dengan mengucapkan โyarhamukallahโ โsemoga Allah merahmatimu. [9] Hadits no. 4181.