Pada(adzan) awal Shubuh. (Lalu dilanjutkan dengan) "Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaaha illallaah." (HR. An-Nasa'i, hadits ini shahih) 5. Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Bilal adzan jika matahari telah tergelincir, dan dia tidak mengurangi (sedikit pun dari lafazh adzan). MUKADDIMAHPENULIS.. 5 ANJURAN SEGERA MENGERJAKAN SHALAT DZUHUR PADA AWAL WAKTU KETIKA PANAS TIDAK MENYENGAT.. 8 (1)-(360) Hadis Anas bin Malik t dia berkata: 8 Syarah Hadis:. 9 ANJURAN SEGERA MENGERJAKAN SHALAT ASHAR.. 13 (2)-(361) Hadis Anas bin Malik t dia berkata: 13 Syarah Hadis:. 14 (3)-(326) Hadis Anas bin Malik t dari Abu Umamah t dia Syaikh Muhammad Al-Khidhir, (lahir di Limboro 4 September 1983), lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Khidhir atau bernama kuniyah Abu Ahmad adalah seorang alim ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yang aktif mengisi kajian Islam di Indonesia.Ia juga merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Majaalis Al-Khidhir Bogor, yang pondok pesantren ini dibangun di atas tanah wakaf dari keluarga besar Rasulullahada tiga orang, yakni Abu Said al-Khudri, โ€žAbdullah in Umar dan Abu Hurairah. Hadis yang bersumber dari Abu Said al-Khudri hanya diriwayatkan oleh satu orang imam, al-Bukhari, dengan mata rantai sanad yang terdiri dari โ€žIyad ibn โ€žAbdillahโ€” Zaid ibn Aslamโ€”Muhammad bin Jaโ€Ÿfarโ€”Said ibn Abi Maryam. Begitu juga hadis yang AdDarimi dalam kitab: an-Nikah, bab: Tunkahu al-Mar'atu 'ala Arba' (Wanita Dinikahi Lantaran Empat Perkara, (2/58)) dari jalannya; Ahmad 3/80, dari jalan Abu Sa'id al-Khudri dengan lafazh-lafazh yang beragam. Dan diriwayatkan oleh Ahmad dari jalan Abu Hurairah 2/428, dengan lafazh-lafazh berdekatan. Asbabul Wurud Hadits Ke-45: Pendapatini tidak dapat diterima, disebabkan hadits dari Abu Sa'id al-Khudri serta hadits-hadits yang serupa maknanya disebut marfu' , itu artinya hadits tersebut shahih, yakni bisa di jadikan hujjah. Kedua, sebagaimana dikemukakakn oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, bahwasannya larangan dalam penulisan hadits berlaku sejak masa permulaan islam. Hal Rasulullahjuga bersabda dalam hadits Abu Sa'id al-Khudri : ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุบู’ู†ู ูŠูุบู’ู†ูู‡ู ุงู„ู„ู‡ู "Siapa yang menampakkan kecukupan niscaya Allah akan membuatnya kaya." (HR. al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1745) May 25, 2016 Edy Gojira artikel ku 1. abusa'id membacakan hadits tentang petir; abu sa'id al-khudri; umar berkata tentang hidup; umar bin khaththab (khulafaur rasyidin kedua) al-hasan al-bashri berkata: "sabar adalah salah s umar bin abdul aziz bicara sabar 'ali berkata tentang sabar; umar berkata tentang sabar; ibnu taimiyah; kisah umar yang membuat rasul menangis; ubay bin 6 Abu Bakar Radhiyallahu anhu memiliki sifat lemah lembut dan pemaaf. Kisah terfitnahnya ibu kaum beriman 'Aisyah Radhiyallahu anhuma putri Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah bukti hasadnya (kedengkian) orang-orang munรขfiq terhadap Rasรปlullรขh Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Namun merupakan kebesaran Allรขh Azza wa Daftarisi Biografi Sahabat Abu Sa'id Al-Khudri. 1. Riwayat Hidup 1.1 Lahir 1.2 Wafat. 2. Kisah-kisah 2.1 Baiat Langsung dengan Rasulullah SAW 2.2 Mengikuti 12 Kali Peperangan. 3. Penerus 3.1 Murid. 4. Referensi. Abu Sa'id Al-Khudri adalah orang ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. KY14EB0. Galat skrip tidak ada modul tersebut "Infobox". Sa'd bin Malik bin Sinan bahasa Arabุณุนุฏ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุณู†ุงู† lahir 10 tahun sebelum Hijrah- 74 H/612-693 Myang terkenal dengan nama Abu Said al-Khudri ุฃุจูˆ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw, dan juga termasuk sahabat Imam Ali as serta pembesar suku Anshar. Ia termasuk perawi hadis Ghadir. Ayahnya juga seorang sahabat Nabi Muhammad saw. Ia turut serta dalam berbagai perang Nabi Muhammad saw. Dalam perang Shiffin dan Nahrawan ia berada di pihak Imam Ali as. Para sejarawan mengakui kefaqihan Abu Sa'id. Ahli rijal Syiah pun memuji kemampuannya. Kebanyakan sumber sejarah mencatat tahun wafatnya adalah 74 H, namun sebagian yang lain menuliskan bahwa tahun wafat Abu Sa'id satu tahun setelah Peristiwa Harrah pada tahun 64 H. Pusaranya, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab rujukan berada di Madinah, Pemakaman Baqi. Silsilah Keluarga Sumber-sumber sejarah Islam tentang Abu Sa'id menerangkan Sa'd bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ubaid bin Abjar. [1] Julukannya adalah Abu Sa'id dikaitkan dengan nenek moyangnya Khudrah yang terkenal dengan nama Abjar. [2] Bani Khudrah adalah sekelompok masyarakat yang merupakan bagian dari bani Anshar. Malik bin Sinan ayah Abu Sa'id syahid dalam perang Uhud. [3] Ibunya adalah Anisah binti Abu Haritsah, berasal dari kabilah bani Najjar. [4] Kedudukan Kepribadian dan Agama Sumber-sumber sejarah mengenal bahwa Abu Sa'id adalah termasuk pembesar suku Anshar [5] dan mengakui kefakihannya. [6] Para sahabatnya mengenal Abu Sa'id dengan kehidupannya yang zuhud. Terkait dengan hal ini, Abu Na'im dalam kitab Hilyah al-Auliya[7] dan Ibnu Jauzi dalam Shifat al-Shafwah [8] menuliskan tentang kepribadiannya. Ahli Rijal Syiah juga menilai bahwa ia adalah seorang yang besar dan sangat memujinya,[9]Di antara sahabat Nabi ia berada dalam satu tingkatan dengan Salman dan Abu Dzar, dan diantara sahabat Imam Ali as berada dalam golongan "Ashfiyaโ€ penolong terpilih. [10] Dalam Rijal Kasysyi yang dinukilkan dari Imam Shadiq as dikatakan bahwa Abu Sa'id, memiliki sikap yang konsisten dalam beragama dan mengenal kebenaran. Dari Fadhl bin Syadzan juga diceritakan bahwa Abu Sa'id termasuk golongan yang pertama masuk Islam dari kalangan para sahabat. [11] Riwayat Abu Sa'id adalah salah seorang perawi kenamaan Nabi Muhammad saw. Suku Anshar dan Muhajirin meriwayatkan hadis darinya. [12] Hadis-hadis yang diriwayatkan Abu Sa'id yang berasal dari Nabi Muhammad sejumlah 1170, dan sebagian darinya dituliskan oleh pemilik kitab Shihah Sittah seperti Muslim dan Bukhari. [13] Buqa bin Khaul juga menuliskan banyak dari hadis-hadis tersebut di dalam Musnad Kabirnya. [14] Diantara riwayat-riwayat dan hadis-hadis yang dinukilkan oleh Abu Sa'id adalah hadis Ghadir yang merupakan hal yang sangat penting menurut orang Syiah. Ia juga meriwayatkan hadis dari sahabat-sahabat yang masyhur. Diantara orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Abu Sa'id Khudri adalah sekelompok dari para sahabat masyhur Nabi seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik. Sangat banyak para tabiin seperti Sa'd bin Musabab, Atha bin Yasar dan Nafi' menjumpai Abu Sa'id. [15] Kedudukan Politik Semasa kehidupan Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as Abu Sa'id aktif dalam kehidupan politik. Ia berusia 13 tahun ketika ayahnya membawanya ke hadapan Nabi Muhammad saw untuk mengikutsertakan dalam perang Uhud, namun Nabi saw tidak memberikan ijin kepadanya karena usianya yang masih kecil. Setelah perang Uhud, ia turut serta dalam berbagai peperangan yang diikuti oleh Nabi Muhammad saw. [16]Waqidi, seorang penulis sejarah pada abad ke-3 dan ke-4 H menukilkan bahwa perang pertama kali yang diikuti oleh Abu Sa'id adalah perang Khandaq. [17] Ibnu Katsir 774 H berkata bahwa ia ikut serta dalam 12 peperangan Nabi Muhammad saw. [18] Pada zaman kekhalifahan Imam Ali as ia turut serta dalam perang Shiffin dan Nahrawan. [19] Abu Sa'id tidak memiliki hubungan pertemanan dengan bani Umayah dan pada berbagai kesempatan melancarkan kritikan kepada mereka diantaranya ketika Marwan bin Hakam mendahulukan khutbah Id sebelum melaksanakan Shalat Id. [20] Demikian juga ketika Muawiyah memerintah, ia pergi ke Syam untuk mengkritik pemerintahannya. [21] Mengenai bahwa Abu Sa'id pada tahun 73 H membaiat Abdul Malik bin Marwan secara tertulis, dan juga Abdul Malik sebelum kekhilafahannya, maka berdasarkan hadis dari Abu Sa'id [22] baik dari sisi zaman dan dari sisi jenis hubungan antara Abu Sa'id dan bani Umayah maka hal itu diragukan kebenarannya. Menurut perkataan Ibnu Qutaibah[23]Abu Sa'id dalam Peristiwa Harrah ketika terjadi serangan yang dilancarkan oleh pasukan Syam ke Madinah menjadikan ia berdiam di rumah, namun pasukan Syam menyerang rumah Abu Sa'id dan menginginkan uang dan harta darinya, namun karena mereka tidak menemukan apa-apa, maka mereka menyiksa Abu Sa'id. Dalam riwayat yang lain, Abu Sa'id lari ke gua dan salah satu pasukan Syam mengejar Abu Sa'id untuk membunuhnya, namun setelah mengenal Abu Sa'id pasukan Syam itu mengampuni Abu Sa'id [24] dan meminta Abu Sa'id untuk memintakan ampun supaya Allah mengampuninya. [25] Kematian Sebagian besar sejarawan menulis bahwa Abu Sa'id wafat pada tahun 74 H. [26] Namun sebagian yang lainnya menuliskan satu tahun setelah peristiwa Harrah. [27] Mereka berkata, ikhtidhar keadaan menjelang kematian Abu Sa'id berlangsung selama 3 hari. Berdasarkan dari referensi-referensi yang ada, ia dikuburkan di Madinah di Pemakaman Baqi. [28] Namun ada juga yang mengatakan bahwa kuburannya ada di Istanbul. [29] Catatan Kaki โ†‘ Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602. โ†‘ Thabari, Al-Muntakhab min Kitฤb Dzail al-Mudzil, jld. 11, hlm. 525. โ†‘ Ibnu Abdul Bar, Al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 1352. โ†‘ Khalifah bin Khayath, al-Thabaqฤt, jld. 1, hlm. 216. โ†‘ Ibnu Abdul Bar, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602, Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180; Ibnu Atsir, Usd al-Ghฤbah, jld. 2, hlm. 289. โ†‘ Ibnu Sa'ad, Thabaqฤt, jld. 2, hlm. 372; Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180; Abul Ishaq Syirazi, Thabaqฤt al-Fuqaha, hlm. 51; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughฤt, jld. 2, hlm. 237; Dzahabi, Siyar A'lฤm al-Nubalฤ, jld. 3, hlm. 170; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishฤbah, jld. 2, hlm. 35. โ†‘ Abu Na'im Isfahani, Hilyah al-Auliyฤ, jld. 1, hlm. 369-371. โ†‘ Ibnu jauzi, Sifah al-Shafwah, jld. 1, hlm. 715714. โ†‘ Barqi, Al-Rijฤl, hlm. 2. โ†‘ Barqi, Ahmad bin Muhammad, Al-Rijฤl, hlm. 3. โ†‘ Thusi, Ikhtiyฤr Ma'rifah al-Rijฤl, hlm. 30-38. โ†‘ Ibnu Abdul Bar, Al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602. โ†‘ Nuri, Tahdzib al-Asmฤ wa al-Lughฤh, 2/237. โ†‘ Dzahabi, Siyar A'lฤm al-Nubala, jld. 3, hlm. 171. โ†‘ Nawawi, Tahdzib al-Asmฤ wa al-Lughฤt, jld. 2, hlm. 237; Ibnu Atsir, Usd al-Ghฤbah, jld. 2, hlm. 289. โ†‘ Thabari, Muntakhab min Kitฤb dzail Mudzil, jld. 11, hlm. 525-52; Hakim Nisyaburi, Mustadrak al-Shahihin, jld. 3, hlm. 5 63; Ibnu Abdul Barr, al-Isti'ab, jld. 2, hlm. 602. โ†‘ Al-Isti'ฤb, jld. 1, hlm. 156. โ†‘ Al-Bidฤyah wa al-Nihฤyah, jld. 9, hlm. 4. โ†‘ Ibnu Habib, al-Muhabbar, hlm. 291; Khatib, Baghdadi, Tฤrikh Baghdฤd, jld. 1, hlm. 180. โ†‘ Shafadi, al-Wฤfi bi al-Wฤfayฤt, jld. 15, hlm. 148. โ†‘ Ibnu Asakir, Tฤrikh Madinah Dimasq, jld. 7, hlm. 182-183, Mengenai penolakann Abu Said terhadap Muawiyah silahkan lihat Nashr bin Muzahim Minqari, Waq'ah Shiffin, hlm. 216. โ†‘ Ibnu Sa'ad, Thabaqฤt, jld. 5, hlm. 229-234. โ†‘ Al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 213 โ†‘ Ibnu Qutaibah, al-Imฤmah wa al-Siyฤsah, jld. 1, hlm. 213. โ†‘ Dzahabi, Tฤrikh al-Islฤm, jld. 3, hlm. 220-221. โ†‘ Khalifah bin Khayath, al-Thabaqฤt, jld. 1, hlm. 216, Ibnu Qutaibah, al-Ma'arif, jld. 11, hlm. 267 dan 526; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, jld. 6, hlm. 40; Ibnu Abdul Barr, al-Isti'ฤb, jld. 2, hlm. 602; Khatib Baghdadi, Tฤrikh Baghdad, jld. 1, hlm. 118. โ†‘ Ibnu Hayan, Masyฤhir Ulama al-Amshar, hlm. 11. โ†‘ Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah, Mustadrak al-Shahihain, jld. 2, hlm. 237. โ†‘ Isyli, 70-73, Necdet, Istanbulda sahabe kabir ue makamlan, Ankara, Renk ofset matbaacilik. Daftar Pustaka Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghฤbah. Beirut Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi. Ibnu Jauzi, Abdurahman bin Ali. Shifat ash-Shafwah. Muhammad Fakhuri dan Muhammad Rawas Qal'aji. Beirut 1406 H/1986. Ibnu Habib, Muhammad. Al-Muhabbar. Hydarabad Dekkan 1361 H/1954. Ibnu Hajar Asqalani Ahmad bin Ali. Al-Ishฤbah. Kairo 1328 H. Ibnu Hayan, Muhammad. Masyฤhir Ulama al-Amshฤr. Fulayisyhamir. Kairo 1379 H/1959. Ibnu Sa'ad, Muhammad. Thabaqฤt. Beirut Dar Shadir. Ibnu Abdul Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ฤb. Kairo 1380 H/1960. Ibnu Asakir, Ali bin Husain. Tฤrikh Madinah Dimasyq. Aman Dar al-Basyir. Ibnu Qutaibah. Al-Ma'ฤrif. Kairo Tsirwat Akasyah, 1960. Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Imฤmah wa as-Siyฤsah. Kairo 1388 H/1969. Abul Ishaq Syirazi, Ibrahim bin Ali. Thabaqฤt al-Fuqaha. Riset Ihsan Abas. Beirut 1401 H/1981. Abu Na'im Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Hilyah al-Auliya. Kairo 1351 H/1959. Barqi, Ahmad bin Muhammad. Ar-Rijฤl. Riset Jalaluddin Muhadits. Teheran 1342 HS. Hakim Nisyaburi, Muhammad bin Abdullah. Mustadrak ash-Shahihain. Hydarabad Dekkan 1324 H. Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tฤrikh Bagdad. Kairo 1349 H. Khalifah bin Khayath. Ath-Thabaqฤt. Riset Suhail Zakar. Damaskus 1966. Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lฤm an-Nubala. Riset Syu'aib Arnaot dkk. Beirut 1405 H/1958. Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tฤrikh al-Islฤm. Kairo 1368 H. Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wฤfi bi al-Wฤfayฤt. Riset Brand Ratakeh Wisabadan, 1399 H/1979. Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu'jam al-Kabir. Riset Hamdi Abdul Majid Salafi. Baghdad 1399 H/1979. Thabari. Al-Muntakhab min Kitฤb Dzail Mudzil. Dilengkapi dengan Tarikh Thabari. Thusi, Muhammad bin Hasan. Ikhtiyฤr Ma'rifah ar-Rijฤl. Riset Hasan Musthafawi. Masyhad 1348 HS. Nashr bin Muzahim Minqari. Waqa'ah Shiffin. Riset Abdul Salam Muhammad Harun. Kairo 1382 H. Nawawi, Yahya bin Syaraf. Tahdzib al-Asma wa al-Lughat. Kairo Idarah al-Thaba'ah al-Musyiriyah. vte Sahabat Nabi sawEmigran ke Abyssinialaki-laki Ja'far bin Abi Thalib โ€ข Abdullah bin Mas'ud โ€ข Abdullah bin Jakfar โ€ข Abdullah bin Abdul Asad โ€ข Abu Ubaidah bin al-Jarrah โ€ข Syurahbil bin Hasanah โ€ข Khalid bin Sa'id โ€ข Utsman bin Affan โ€ข Abu Hudzaifah โ€ข Miqdad bin Amr โ€ข Mush'ab bin Umair โ€ข Abdurrahman bin Awfwanita Ummu Salamah โ€ข Ummu Habibah โ€ข Asma binti Umais โ€ข Ruqayyah โ€ข Ummu Aiman โ€ข Shafiyah binti Abdul Mutthalib โ€ข Saudah binti Zam'at bin QaisMeninggal sebelum Hijrah ke Habasyahlaki-laki Abu Thalib โ€ข Yasir bin 'Amirwanita Khadijah binti Khuwailid โ€ข SumayyahMuhajirinlaki-laki Imam Ali as โ€ข Hamzah โ€ข Ammar bin Yasir โ€ข Abu Dzar al-Ghifari โ€ข Miqdad bin 'Amr โ€ข Bilal al-Habsyi โ€ข Arqam bin Abi Arqam โ€ข Budail bin Warqa โ€ข Abu Rafi' โ€ข Abdullah bin Mas'ud โ€ข Abbas bin Abdul Muththalib โ€ข Khabbab bin Arat โ€ข Usamah bin Zaidโ€ข Abu Hudzaifah โ€ข Abu al-'Ash bin Rabi' โ€ข Thalhah โ€ข Zubair bin 'Awwam โ€ข Ibnu Abbas โ€ข Salman al-Farisi โ€ข Syurahbil bin Hasanah โ€ข Khalid bin Sa'id โ€ข Utsman bin Mazh'un โ€ข Utsman bin Affan โ€ข Sa'ad bin Abi Waqqash โ€ข 'Amr bin Hamiq al-Khuza'i โ€ข Shuhaib bin Sinan โ€ข Abu Bakar โ€ข Umar bin Khattab โ€ข Zaid bin Haritsah โ€ข Abu Ubaidah bin Jarrah โ€ข Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muttalib โ€ข Jabir bin Samurah โ€ข Abdullah bin Umar โ€ข Abdullah bin Jakfar bin Abi Thalibwanita Fatimah az-Zahra sa โ€ข Fatimah binti Asad โ€ข Ummu Aiman โ€ข Ummu Salamah โ€ข Aisyah โ€ข Zainab binti Jahsy โ€ข Ruqayyah binti Muhammad โ€ข Shafiyah binti Abdul Mutthalib โ€ข Saudah binti Zam'at bin Qais โ€ข Zainab binti Nabi saw โ€ข Ummu Kultsum putri Nabi sawAnsharlaki-laki Jabir bin Abdillah al-Anshari โ€ข Khuzaymah bin Tsabit โ€ข As'ad bin Zurarah โ€ข Abu al-Haitsam bin al-Tayyihan โ€ข Abu Qatadah Anshari โ€ข Sahl bin Hunaif โ€ข Utsman bin Hunaif โ€ข Abu Lubaba Anshari โ€ข Zaid bin Arqam โ€ข Buraidah bin Hushaib al-Aslami โ€ข Abu Sa'id al-Khudri โ€ข Hanzhalah bin Abi 'Amir โ€ข Abu Ayyub al-Anshari โ€ข Abu Thalhah โ€ข Zaid bin Tsabit โ€ข Bara' bin 'Azib โ€ข Aus bin Tsabit โ€ขSyaddad bin Aus โ€ข Abu Dujanah โ€ข Khubaib bin 'Adi โ€ข Sa'ad bin 'Ubadah โ€ข Sa'ad bin Mu'adz โ€ข Hudzaifah bin Yaman โ€ข Hassan bin Tsabit โ€ข Muadz bin Jabal โ€ข Bilal bin Harits โ€ข Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah โ€ข Abdullah bin Rawahah โ€ข Sa'id bin Sa'ad โ€ข Sahl bin Sa'ad Sa'idiwanita Ummu 'Umarah โ€ข Rumaisha binti MilhanBadriyyunlaki-laki Imam Ali as โ€ข Hamzah โ€ข Sahl bin Hunaif โ€ข Bilal al-Habasyi โ€ข Abdullah bin Mas'ud โ€ข Usman bin Mazh'un โ€ข Shuhaib bin Sinan โ€ข Abdullah bin Abdul Asad โ€ข 'Ammar bin Yasir โ€ข Miqdad bin 'Amr โ€ข Abu al-Haitsam bin al-Tayyihan โ€ข Ubay bin Ka'ab โ€ข Basyir bin Sa'ad โ€ข Mush'ab bin Umair โ€ข Zaid bin Haritsah โ€ข Ka'ab bin Amrwanita โ€ขMemeluk Islam setelah Pembukaan Kota Mekahlaki-laki Hasyim bin 'Utbah bin Abi Waqqas โ€ข Abu Sufyan โ€ข Muawiyah โ€ข Kharijah bin Hudzafah โ€ข Khirrit bin Rasyid al-Naji โ€ข Jarud bin Mu'alla โ€ข Mughirah bin Haritswanita โ€ขSahabat lainlaki-laki Salman al-Farsi โ€ข Aqil bin Abi Thalib โ€ข Hanzalah bin Rabi' โ€ข Sulaiman bin Shurad al-Khuzai โ€ข Sa'ad bin Mas'ud al-Tsaqafi โ€ข Hujr bin 'Adi โ€ข Amru bin Ash โ€ข Malik bin Nuwairah โ€ข Khalid bin Walid โ€ข Aban bin Sa'id โ€ข Tamim al-Dari โ€ข Abu Musa al-Asy'ari โ€ข Mushayyib bin Najabah โ€ข Amir bin Watsilahwanita Shafiyah binti Huyay โ€ข Maimunah binti Harits โ€ข Umamah binti Abi al-'Ash โ€ข Fiddha Nabi Muhammad vte Jannatul BaqiSejarah Singkat Baitul Ahzan โ€ข Monumen-monumen Baqi' โ€ข Penghancuran Baqi โ€ข Hari PenghancuranYang disemayamkanPara Imam Baqi Imam Hasan as โ€ข Imam Sajjad as โ€ข Imam Baqir as โ€ข Imam Shadiq asPara Sahabat laki-laki As'ad bin Zurarah โ€ข Utsman bin Mazh'un โ€ข Sa'ad bin Mu'ad โ€ข Asid bin Hudhair โ€ข Mughirah bin Harits โ€ข Ibnu Masud โ€ข Suhaib bin Sinan โ€ข Abu Sa'id al-Khudri โ€ข Abbas bin Abdul Muththalib โ€ข Abdullah bin Ja'far โ€ข Aqil โ€ข Jabir bin Abdillah al-AnshariKeluarga Nabi Halimah Sa'diah โ€ข Ruqayyah putri Nabi โ€ข Ibrahim Putra Rasulullah โ€ข Zainab putri Rasulullah โ€ข Ummu Kultsum putri Rasulullah โ€ข Zainab putri Khuzaimah โ€ข Mariyah al-Qibthiyah โ€ข Zainab putri Jahsy โ€ข Hafsah โ€ข Shafiyah putri Huyai bin Akhtab โ€ข Saudah โ€ข Juwairiyah โ€ข Aisyah โ€ข Ummu Salamah Istri Nabi โ€ข Shafiyah putri Abdul Mutthalib โ€ข Atikah Lain-lain Fatimah binti Asad โ€ข Ummul Banin โ€ข Hasan al-Mutsanna โ€ข Nafsu Zakiyah โ€ข Ismail bin Ja'far โ€ข Ummu Farwah โ€ข Ibnu Syudqam โ€ข Ahsai โ€ข Muhammad Ali 'Amri Yang terkait Membangun Kuburan โ€ข Ziarah Kubur โ€ข Tabaruk โ€ข Tahun 1220 Hijriah Qamariah โ€ข Tahun 1344 hijriah Qamariah โ€ข Abdur Rahim Fushuli โ€ข Kaum Wahhabi vte Sahabat Imam Ali asSyurthah al-Khamis Salman โ€ข Abu Dzar โ€ข Miqdad โ€ข 'Ammar โ€ข Kumail โ€ข Abu Sasan al-Anshari โ€ข Abu Amr al-Anshari โ€ข Qanbar โ€ข Sahl bin Hunaif โ€ข Utsman bin Hunaif โ€ข Amr bin Hamq al-Khuza'i โ€ข Maitsam at-Tammar โ€ข Rusyaid al-Hajari โ€ข Habib bin Muzhahir โ€ข Muhammad bin Abi Bakr โ€ข Malik al-Asytar โ€ข Suwaid bin Ghafla al-Ju'fi โ€ข Harith bin Abdillah โ€ข Uwais al-Qarani โ€ข Asbagh bin Nubatah โ€ข Wahab bin Abdillah โ€ข Sulaim bin Qais โ€ข Sa'ad bin Harits โ€ข Abdullah bin Yahya al-HadramiPara Syahid Perang Jamal Zaid bin Shauhan โ€ข Hukaim bin JabalahPara Syahid Perang Shiffin Ibn Taihan โ€ข Ammar โ€ข Khuzaima โ€ข Hasyim bin 'Utbah โ€ข Suhail bin Amr โ€ข Abd Allah bin Ka'ab โ€ข Abu Hazim al-Bajali โ€ข Ya'la bin Umaiyah โ€ข Uwais al-Qarani โ€ข Shafwan bin Hudzaifah โ€ข Sa'ad bin Hudzaifah โ€ข Abu Fudala al-Anshari โ€ข Abd Allah bin Badil โ€ข Abu 'Umra al-Anshari โ€ข Jundab bin Zuhair โ€ข Muhammad bin Sulaiman โ€ข Abdullah bin Arqam โ€ข Abdullah bin Abi HushainPara Syahid Perang Nahrawan Yazid bin Nuwayrah โ€ข Za'ida bin Sumair โ€ข Ru'ba bin Wabir โ€ข Sa'ad bin Khalid โ€ข Abdullah bin Hammad โ€ข Faiyad bin Khalil โ€ข Kaisum bin Salma โ€ข 'Ubaid bin 'Ubaid โ€ข Jumai' bin Jusyam โ€ข Habib bin 'AsimPara Panglima Imam Hasan as โ€ข Imam Husain as โ€ข Malik al-Asytar โ€ข Syuraih bin Hani โ€ข Hujr bin 'Adi โ€ข Hudayn bin Mundhir โ€ข Hukaym bin Jabala โ€ข Abu Qutadah โ€ข Jariyah bin Qudamah โ€ข Sa'id bin Qais โ€ข Muhammad bin Abi Bakar โ€ข Syabats bin Rab'i โ€ข Ma'qal bin Qais โ€ข Abu Ayyub al-Anshari โ€ข Sahl bin Hunaif โ€ข Asy'ats bin Qais al-Kindi โ€ข Ibnu Abbas โ€ข Harits bin Marra โ€ข Sulaiman bin Surad โ€ข Ziyad bin NadhrPerwakilan-perwakilan Sa'id bin Sa'ad โ€ข Sa'ad bin Harits โ€ข Sa'id bin Nimran al-Hamdani โ€ข Rufa'a bin Syaddad โ€ข Malik al-Asytar โ€ข Abu Ayyub al-Anshari โ€ข Sa'ad bin Mas'ud โ€ข Abu Rafi' โ€ข Hudayn bin Mundhir โ€ข Asy'ats bin Qais al-Kindi โ€ข Qais bin Sa'ad โ€ข Wahab bin Abdillah โ€ข Muhammad bin Abu Bakar โ€ข Kumail โ€ข Syaib bin Amir al-Azudi โ€ข Sahl bin Hunaif โ€ข Mundhar bin Jarud โ€ข Mikhnaf bin Sulaim โ€ข Ibn Abbas โ€ข Umar bin Abi Salma โ€ข Qutham bin Abbas โ€ข Nu'man bin 'Ajlan โ€ข Masqala bin Hubaira โ€ข Ziyad bin Abihi โ€ข 'Ammara bin SyahabPara Syahid Karbala Nafi' bin Hilal โ€ข Hani bin 'Urwa โ€ข Habib bin Muzhahir โ€ข Abu Tsumamah al-Shaidi โ€ข Sa'ad bin Harith โ€ข Yazid bin Maghfil โ€ข Hajjaj bin Masruq โ€ข Nu'man bin 'Ajlan โ€ข Burair bin Khudair โ€ข Muslim bin Katsir al-Azdi โ€ข Ammar bin Abi Salamah โ€ข Syabib bin AbdullahPara Perawi Hadis al-Ghadir Sa'id bin Sa'ad โ€ข Salman โ€ข Sahl bin Sa'ad โ€ข Hudzaifa bin Yaman โ€ข Zadhan Abu 'Amr โ€ข Zaid bin Arqam โ€ข Jabir bin Abdillah โ€ข Sulaim bin Qais โ€ข Bara' bin 'Azib โ€ข 'Amr bin Hamiq al-Khuza'iNakitsun Para Pelanggar Janji Zubair bin 'Awwam โ€ข Thalhah bin UbaidillahKhawarij Ibnu Muljam โ€ข Syimir โ€ข Abdullah bin Wahab al-Rasibi โ€ข Syabath bin Rab'i โ€ข Abdullah bin Kawwa' โ€ข Hurqus bin Zuhair โ€ข Syuraih bin Awfa al-Abasi โ€ข Farwa bin Nufil al-Asyja'i โ€ข Abdullahbin Syajara โ€ข Jira bin Sinan al-Asadi โ€ข Zaid bin HusainPerawi Nauf al-Bikali โ€ข Ibnu Abi laila โ€ข 'Amir bin Watsilah โ€ข Abul Aswad al-Duali โ€ข Abdullah bin Jakfar โ€ข Adi bin Hatim โ€ข Abu Juhaifah โ€ข Khaitsamah bin Abdurrahman โ€ข Ahnaf bin Qais โ€ข Dhirar bin DhamrahLian-Lain Abu al-Aswad al-Duali โ€ข Syaddad bin Aws โ€ข Aminah binti Syuraid โ€ข Abu Sa'id al-Khudri โ€ข Amir bin Watsilah โ€ข Ubaidullah bin Abi Rafi' โ€ข Abu Barza al-Aslami โ€ข Habba bin Juwayn al-'Urani โ€ข Khabbab bin Aratt โ€ข Aqil โ€ข Syarik bin al-A'war โ€ข 'Abd al-Rahman bin Abi Laila โ€ข Ka'ab bin Amr โ€ข Abdullah bin Jakfar โ€ข Abdullah bin Afif โ€ข Thirimmah Imam Ali as Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu adalah salah seorang ulamanya para sahabat. Ia termasuk seorang Anshar yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan termasuk yang terbanyak riwayatnya di antara sahabat lainnya. Nasabnya Nama dan nasab Abu Said al-Khudri adalah Saad bin Malik bin Sinan bin Ubaid bin Tsaโ€™labah al-Abjar -Abjar adalah Khudrah- bin Auf bin al-Harits bin al-Khazraj al-Anshari al-Kahzraji. Yang masyhur dengan kun-yah Abu Said al-Khudri. Masa Rasulullah Abu Said bercerita, โ€œRasulullah datang kepada kami. Kami adalah orang-orang biasa bukan tokoh dari kalangan kaum muslimin. Aku kira Rasulullah tidak mengenal salah seorang dari kami. Sebagian dari kami hampir-hampir tak berpakaian. Rasulullah mengisyaratkan bentuk lingkarangan dengan tangannya. Beliau bersabda, โ€œDengan apa kalian saling mengingatkan?โ€ Mereka menjawab, โ€œIni ada seseorang yang membacakan Alquran kepada kami dan mendakwahi kami.โ€ Beliau berkata, โ€œSerulah! Mengapa kalian bersamanya.โ€ Kemudian beliau berkata, โ€œSegala puji bagi Allah yang menjadikan untuk umatku seseorang yang aku perintahkan untuk bersama mereka.โ€ Beliau melanjutkan, โ€œBerilah kabar gembira pada orang-orang beriman yang miskin bahwa mereka akan lebih dahulu masuk surge dibanding orang-orang kaya pada hari kiamat kelak dengan lama 500 tahun lebih awal. Mereka berada di dalam surga dan menikmati kenikmatannya. Sementara orang-orang kaya masih dihisab.โ€ HR. Abu Dawud. Masa Para Sahabat Saat orang-orang membaiat Yazid bin Muawiyah, cucu Nabi, Husein bin Ali radhiallahu anhuma tidak membaiatnya. Mendengar kabar tersebut, orang-orang Kufah mengirimi Husein surat. Mengajaknya untuk datang ke Kufah. Awalnya Husein menolak. Kemudian mereka mengajak Muhammad bin al-Hanafiyah saudara seayah dengan Husein bin Ali. Beliau pun menolak. Mereka kembali membujuk Husein, Husein berkata, โ€œSesungguhnya mereka ini hendak memangsa kita dan bersemangat mengucurkan darah kita.โ€ Bujukan dan godaan orang-orang kufah ini membuat Husein risau. Terkadang beliau merasa condong kepada mereka. Terkadang ia tidak ingin keluar. Kemudian datanglah Abu Said al-Khudri, ia berekata, โ€œHai Abu Abdullah kun-yah Husein, sungguh aku termasuk pemberi nasihat untuk Anda. Aku adalah orang yang menyayangimu. Sampai kabar padaku bahwa para pendukungmu di Kufah mengirimimu surat. Mereka mengajakmu menuju mereka. Jangan kau keluar! Sungguh aku mendengar ayahmu saat di Kufah, ia berkata, โ€œDemi Allah, aku telah membuat mereka bosan dan marah. Mereka pun membuatku bosan dan marah. Tidak kudapati sifat memenuhi janji pada mereka. Siapa yang selamat dari mereka, dia telah selamat dari panah yang jelek. Demi Allah, tidak ada keteguhan dan ketetapan hati dalam suatu urusan. Tidak ada kesabaran pada mereka saat menghadapi pedang.โ€ Masa Tabiโ€™in Pada saat terjadi kekacauan di Kota Madinah, Abu Said al-Khudri keluar dan bersembunyi di sebuah goa. Ia disusul oleh seorang pasukan Syam. Kata Abu Said, โ€œSaat ia melihatku, ia hunus pedangnya menginginkanku. Saat ia dekat denganku, ia arahkan pedangnya padaku. Kutahan pedangku. Dan kubaca firman Allah, ุฅูู†ูู‘ูŠ ุฃูุฑููŠุฏู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽุจููˆุกูŽ ุจูุฅูุซู’ู…ููŠ ูˆูŽุฅูุซู’ู…ููƒูŽ ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฌูŽุฒูŽุงุกู ุงู„ุธูŽู‘ุงู„ูู…ููŠู†ูŽ โ€œSesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalimโ€. [Quran Al-Maidah 29] Mendengar hal itu, ia bertanya, โ€œSiapa Anda?โ€ โ€œAku Abu Said al-Khudriโ€, jawabku. โ€œSahabatnya Rasulullah?โ€ tanyanya. โ€œIyaโ€, jawabku. Ia pun berlalu dan meninggalkanku. Riwayat Abu Said โ€“ Dari Ismail bin Raja bin Rabiโ€™ah dari ayahnya. Ia berkata, โ€œKami bersama Abu Said al-Khudri saat ia sedang sakit yang mengantarkannya pada wafat. Ia mengalami pingsan. Kemudian saat tersadar, kami berkata padanya, Shalat, Abu Saidโ€™. Ia berkata, Kafanโ€™. Abu Bakr perwari berkata, Ia menginginkan kafan. Kemudian ia menyebutkan beberapa hadits yang ia riwayatkan dari Nabiโ€™.โ€ โ€“ Terdapat suatu riwayat ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽุงู„ููƒู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ุตูŽุนู’ุตูŽุนูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑููŠูู‘ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ูŠููˆุดููƒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูŽุงู„ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุบูŽู†ูŽู…ูŒ ูŠูŽุชู’ุจูŽุนู ุจูู‡ูŽุง ุดูŽุนูŽููŽ ุงู„ู’ุฌูุจูŽุงู„ู ูˆูŽู…ูŽูˆูŽุงู‚ูุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุทู’ุฑู ูŠูŽููุฑูู‘ ุจูุฏููŠู†ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ููุชูŽู†ู โ€œTelah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Shaโ€™Shaโ€™ah dari bapaknya dari Abu Saโ€™id Al Khudri bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œHampir saja terjadi suatu zaman harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnahโ€.โ€ HR. Al-Bukhari. โ€“ Abu Said al-Khudri meriwayatkan sebuah hadits ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽู‘ุฉูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑูŽุŒ ุซูู…ูŽู‘ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ุฃูŽุฎู’ุฑูุฌููˆู’ุง ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ู ู…ูุซู’ู‚ูŽุงู„ู ุญูŽุจูŽู‘ุฉู ู…ูู†ู’ ุฎูŽุฑู’ุฏูŽู„ู ู…ูู†ู’ ุฅููŠู’ู…ูŽุงู†ูุŒ ููŽูŠูุฎู’ุฑูŽุฌููˆู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู‚ูŽุฏ ูุงุณู’ูˆูŽุฏูู‘ูˆุง ููŽูŠูู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู†ูŽ ูููŠ ู†ูŽู‡ู’ุฑู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุกู -ุฃูŽูˆู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉูุŒ ุดูŽูƒูŽู‘ ู…ูŽุงู„ููƒูŒ- ููŽูŠูŽู†ู’ุจูุชููˆู’ู†ูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ุชูŽู†ู’ุจูุชู ุงู„ู’ุญูŽุจูŽู‘ุฉู ูููŠ ุฌูŽุงู†ูุจู ุงู„ุณูŽู‘ูŠู’ู„ูุŒ ุฃูŽู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุชูŽุฎู’ุฑูุฌู ุตูŽูู’ุฑูŽุงุกูŽ ู…ูู„ู’ุชูŽูˆููŠูŽุฉู‹ุŸ โ€œSetelah penghuni Surga masuk ke Surga, dan penghuni Neraka masuk ke Neraka, maka setelah itu Allah pun berfirman Keluarkan dari Neraka orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi iman!โ€™ Maka mereka pun dikeluarkan dari Neraka. Hanya saja tubuh mereka sudah hitam legam bagaikan arang. Lalu mereka dimasukkan ke sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh berubah, sebagaimana tumbuhnya benih yang berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau perhatikan, bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat?โ€ HR. Al-Bukhari dari Abu Saโ€™id al-Khudriy Radhiyallahu anhu. โ€“ Abu Said juga meriwayatkan sebuah hadits ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู ุจู’ู†ู ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ู ุจู’ู†ู ุณูŽุนู’ุฏู ุนูŽู†ู’ ุตูŽุงู„ูุญู ุนูŽู†ู’ ุงุจู’ู†ู ุดูู‡ูŽุงุจู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุณูŽู‡ู’ู„ู ุจู’ู†ู ุญูู†ูŽูŠู’ูู ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุณูŽู…ูุนูŽ ุฃูŽุจูŽุง ุณูŽุนููŠุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑููŠูŽู‘ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ู†ูŽุงุฆูู…ูŒ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ูŠูุนู’ุฑูŽุถููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู‚ูู…ูุตูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ูŠูŽุจู’ู„ูุบู ุงู„ุซูู‘ุฏููŠูŽู‘ ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูŽุง ุฏููˆู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุนูุฑูุถูŽ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ุนูู…ูŽุฑู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽู‘ุงุจู ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู‚ูŽู…ููŠุตูŒ ูŠูŽุฌูุฑูู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ููŽู…ูŽุง ุฃูŽูˆูŽู‘ู„ู’ุชูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidillah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Saโ€™d dari Shalih dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif bahwasanya dia mendengar Abu Said Al Khudri berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda โ€œKetika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka mengenakan baju, diantaranya ada yang sampai ke buah dada dan ada yang kurang dari itu. Dan dihadapkan pula kepadaku Umar bin Al Khaththab dan dia mengenakan baju dan menyeretnya. Para sahabat bertanya โ€œApa maksudnya hal demikian menurut engkau, ya Rasulullah?โ€ Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab โ€œAd-Din agama.โ€ HR. Al-Bukhari. โ€“ Riwayat berikutnya ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู’ ุณูŽุนููŠู’ุฏู ุงู„ู’ุฎูุฏู’ุฑููŠูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกู ู„ูู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุบูŽู„ูŽุจูŽู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุงู„ุฑูู‘ุฌูŽุงู„ู, ููŽุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ. ููŽูˆูŽุนูŽุฏูŽู‡ูู†ูŽู‘ ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู„ูŽู‚ููŠูŽู‡ูู†ูŽู‘ ูููŠู’ู‡ู ููŽูˆูŽุนูŽุธูŽู‡ูู†ูŽู‘ ูˆูŽุฃูŽู…ูŽุฑูŽู‡ูู†ูŽู‘, ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู’ู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ูƒูู†ูŽู‘ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ุชูู‚ูŽุฏูู‘ู…ู ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ูˆูŽู„ูŽุฏูู‡ูŽุง ุฅูู„ุงูŽู‘ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุญูุฌูŽุงุจู‹ุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู. ููŽู‚ูŽุงู„ูŽุชู ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ูˆูŽุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽุงุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู. Dari Abu Saโ€™id al-Khudri menceritakan bahwa sejumlah para wanita berkata kepada Nabi โ€œKaum lelaki lebih banyak bergaul denganmu daripada kami, maka jadikanlah suatu hari untuk kamiโ€. Nabi menjanjikan mereka suatu hari untuk bertemu dengan mereka guna menasehati dan memerintah mereka. Diantara sabda beliau saat itu โ€œTidak ada seorang wanitapun yang ditinggal mati oleh tiga anaknya kecuali akan menjadi penghalang baginya dari nerakaโ€. Seorang wanita bertanya โ€œBagaimana kalau Cuma dua?โ€. Nabi menjawab โ€œSekalipun Cuma duaโ€ HR. Al-Bukhari. Al-Khatib al-Baghdadi berkata tentang Abu Said al-Khudri, โ€œDia termasuk sahabat yang paling utama dan penghafal hadits yang banyak.โ€ Wafat Ada beberapa pendapat tentang tahun wafat Abu Said al-Khudri. Ada yang mengatakan beliau wafat tahun 74 H. Ada pula yang mengatakan 64 H. Al-Madaini mengatakan, โ€œIa wafat tahun 63 Hโ€. Sedangkan al-Askari mengatakan, โ€œIa wafat tahun 65 H.โ€ Semoga Allah meridhainya. Diterjemahkan dari Oleh Nurfitri Hadi nfhadi07 Artikel KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28 HAK-HAK JALANOleh Ustadz Arif Syarifuddin LcAbu Saโ€™id Al Khudri Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู„ููˆุณูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุทู‘ูุฑูู‚ูŽุงุชูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู…ูŽุง ู„ูŽู†ูŽุง ุจูุฏู‘ูŒ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‡ููŠูŽ ู…ูŽุฌูŽุงู„ูุณูู†ูŽุง ู†ูŽุชูŽุญูŽุฏู‘ูŽุซู ูููŠู‡ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุจูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽุฌูŽุงู„ูุณูŽ ููŽุฃูŽุนู’ุทููˆุง ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽู‡ูŽุงุŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูˆูŽู…ูŽุง ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุบูŽุถู‘ู ุงู„ู’ุจูŽุตูŽุฑู ูˆูŽูƒูŽูู‘ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽู‰ ูˆูŽุฑูŽุฏู‘ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ูŽุงู…ู ูˆูŽุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽู†ูŽู‡ู’ูŠูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู.โ€œJanganlah kalian duduk-duduk di tepi jalanan,โ€ mereka para sahabat berkata,โ€Sesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.โ€ Beliau berkata,โ€Jika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut,โ€ mereka bertanya,โ€Apa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?โ€ Beliau menjawab,โ€Menundukkan membatasi pandangan, tidak mengganggu menyakiti orang, menjawab salam, memerintahkan kepada yang maโ€™ruf dan mencegah dari yang mungkarโ€. Takhrij Hadits Muttafaun alaihi. Hadits ini diriwayatkan oleh al Bukhari dalam Shahih-nya di kitab Fathul Bari di kitab al Mazhalim wal Ghashab, hadits no. 2465 dan di kitab al Istiโ€™dzan, hadits no. 6229; Muslim dalam Shahih-nya dengan syarah an Nawawi di kitab al Libaas waz Ziinah, hadits no. 2121 dan di kitab as Salam, hadits no. Perawi Hadits Abu Saโ€™id Al Khudri Radhiyallahu anhu. Beliau bernama Saโ€™ad bin Malik bin Sinan bin Ubaid dari Bani Khudrah -al Abjar- bin Auf al Khazraji al Anshari, lebih dikenal dengan sebutan Abu Saโ€™id al Khudri. Dilahirkan di kota Madinah. Beliau dan ayahnya termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang saat terjadi peperangan Uhud, beliau masih kecil, sehingga tidak dapat ikut serta dalam peperangan, namun ayahnya, Malik bin Sinan mengikutinya dan mati syahid dalam peperangan perang Uhud, beliau ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam 12 peperangan dimulai dari perang Khandak. Beliau salah satu ulama dan fuqaha para sahabat, banyak mendengar dan meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan dari beberapa sahabat wafat di Madinah pada tahun 74 H, atau ada pula yang menyebutkan beliau wafat 10 tahun sebelumnya, yaitu antara tahun 63-65H. Wallahu aโ€™lam.[1]Makna Hadits Secara Ringkas Suatu saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berjalan melewati beberapa orang sahabat yang sedang duduk-duduk di pekarangan rumah salah seorang dari mereka. Di antara mereka adalah Abu Thalhah Radhiyallahu anhu, lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam menegur mereka agar tidak melakukan hal itu. Namun para sahabat menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , bahwa mereka perlu duduk-duduk untuk memperbincangkan suatu urusan. Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berpesan kepada mereka, bahwa jika memang hal itu diperlukan dan tidak bisa ditinggalkan, maka mereka wajib memenuhi hak-hak orang lain yang melewati mereka, di antaranya yang disebutkan dalam hadits ini ada empat macam hak, yaituMenundukkan membatasi pandangan dari melihat para wanita yang bukan mahramnya yang melewatinya atau hal-hal yang diharamkanTidak mengganggu menyakiti orang dengan ucapan maupun salamMemerintahkan manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan Hadits Al Imam an Nawawi berkata,โ€Hadits ini banyak mengandung pelajaran yang penting dan termasuk di antara sederetan hadits-hadits jamiโ€™ yang ringkas tetapi penuh makna, lagi jelas hukum-hukumnya.โ€[2]Penjelasan dan Faidah-Faidah HaditsKata-kata ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู„ููˆู’ุณูŽโ€ฆ metode seperti ini, biasanya digunakan untuk memberi peringatan sebagai perintah agar menjauhi sesuatu yang buruk dan maknanya sama dengan melarangnya. Jadi maknanya adalah โ€œjauhilah oleh kalian hal tersebutโ€ atau โ€œjanganlah kalian melakukan hal ituโ€. Seperti dalam sebuah hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจูŽ[3] yang artinya, โ€œjauhilah perkataan dustaโ€ atau โ€œjanganlah kalian berdustaโ€.Tapi apakah suatu perintah itu harus berarti wajib, atau apakah suatu larangan harus berarti haram? Kita akan simak jawabannya pada penjelasan berikutnya dalam tulisan ุงู„ุทู‘ูุฑูู‚ูŽุงุช adalah bentuk jamak dari ุงู„ุทู‘ูุฑูู‚, sedangkan ุงู„ุทู‘ูุฑูู‚ adalah bentuk jamak dari ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ yang artinya adalah Imam al Bukhari menyebutkannya dalam judul bab untuk hadits ini di kitab al Mazhalim dengan ungkapan ุงู„ุตู‘ูุนูุฏูŽุงุช guna menunjukkan kesamaan makna antara keduanya. Hal itu dikuatkan oleh hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu dalam Shahih Muslim, hadits no. 2161 ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan dengan kata ุงู„ุตู‘ูุนูุฏูŽุงุช dan Imam Muslim menyebutkannya dalam judul bab untuk hadits ini di kitab as Salam dengan kata ุงู„ุทู‘ูŽุฑููŠู‚ู.Kemudian Imam al Bukhari -dalam judul bab yang sama di kitab al Mazhalimโ€“ menyebutkan kata ุฃูŽูู’ู†ููŠูŽุฉ ุงู„ุฏู‘ููˆุฑู, yang artinya adalah pekarangan halaman rumah, guna menunjukkan kesamaan hukumnya dengan jalanan selama pekarangan atau halaman rumah tersebut terbuka dan biasa dilewati oleh orang banyak.Dan itu didukung dengan hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu dalam riwayat Muslim, ketika Abu Thalhah Radhiyallahu anhu berkataูƒูู†ู‘ูŽุง ู‚ูุนููˆุฏู‹ุง ุจูุงู„ุฃูŽูู’ู†ููŠูŽุฉูุŒ ููŽุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู e ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุงู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูู…ูŽุฌูŽุงู„ูุณู ุงู„ุตู‘ูุนูุฏูŽุงุชูโ€œKetika kami sedang duduk-duduk di halaman pekarangan rumah, lalu datanglah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berkata,โ€™Kenapa kalian duduk-duduk di tepi jalanan?โ€™.โ€Saโ€™id bin Manshur menambahkan โ€“dengan menukil- dari Mursal Yahya bin Yaโ€™mur ungkapan berikutููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุณูŽุจููŠู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุณูุจูู„ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฃูŽูˆู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูSesungguhnya tepi jalanan itu adalah salah satu dari jalan-jalan setan atau neraka. Lihat Fathul Bari, 11/12-13.Itulah alasan kenapa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang mereka duduk-duduk di tepi jalanan atau pula warung-warung dan balkon-balkon yang tinggi yang berada di atas orang-orang yang lewat. Fathul Bari, 5/135.Perkataan para sahabat โ€œsesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincangโ€.Dalam riwayat Muslim hadits no. 2161 dari hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu terdapat tambahan kata-kata โ€œdan untuk saling mengingatkan menasihatiโ€. Dan dari riwayat ini pula diketahui, bahwa yang mengucapkan perkataan tersebut adalah Abu Thalhah Radhiyallahu anhu. Lihat Fathul Bari, 5/135.Al Qadhi Iyadh berkata,โ€Dalam perkataan sahabat tersebut terdapat dalil yang menunjukkan, bahwa perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka itu tidak untuk kewajiban, melainkan bersifat anjuran dan keutamaan. Karena, kalau mereka memahaminya sebagai kewajiban, tentu mereka tidak akan merajuk kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti itu. Dan hal ini dijadikan dalil oleh mereka yang berpendapat bahwa perintah-perintah itu tidak mengandung kewajiban.โ€Ibnu Hajar rahimahullah berkomentar โ€œNamun, ada kemungkinan bahwa mereka mengharapkan adanya nasakh penghapusan hukum kewajiban tersebut untuk meringankan apa yang mereka adukan perihal keperluan mereka melakukan hal itu, dan hal ini didukung oleh apa yang tersebut dalam Mursal Yahya bin Yaโ€™mur, di sana terdapat kata-kata maka mereka mengira bahwa hal itu merupakan keharusan kewajibanโ€™.โ€ Fathul Bari, 11/13.Perkataan โ€œjika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk , maka berilah hak jalan tersebutโ€.Ibnu Hajar berkata,โ€Dari alur pembicaraan ini jelaslah, bahwa larangan duduk-duduk di tepi jalanan atau semisalnya, pen. dalam hadits ini adalah untuk tanzih yang bermakna makruh bukan haram, agar tidak mengendurkan orang yang duduk-duduk untuk memenuhi hak jalan yang wajib ia penuhiโ€. Fathul Bari, 5/135.Imam an Nawawi rahimahullah berkata, โ€œโ€ฆ dan maksudnya adalah bahwa duduk-duduk di tepi jalanan itu dimakruhkanโ€. Syarh Shahih Muslim, 14/120.Perkataan โ€œhak jalan adalah ghadhdhul bashar menundukkan pandangan, kafful adza tidak mengganggu atau menyakiti orang, menjawab salam, memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaranโ€.Ibnu Hajar rahimahullah berkata,โ€Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan ghadhdhul bashar menundukkan pandangan untuk mengisyaratkan keselamatan dari fitnah karena lewatnya para wanita yang bukan mahram maupun yang lainnya. Menyebutkan kafful adza tidak mengganggu atau menyakiti orang untuk mengisyaratkan keselamatan dari perbuatan menghina, menggunjing orang lain ataupun yang serupa. Menyebutkan perihal menjawab salamโ€™ untuk mengisyaratkan keharusan memuliakan atau mengormati orang yang melewatinya. Menyebutkan perihal memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaranโ€™ untuk mengisyaratkan keharusan mengamalkan apa yang disyariโ€™atkan dan meninggalkan apa yang tidak disyariโ€™atkan.โ€Beliau melanjutkan,โ€Dalam hal ini terdapat dalil bagi yang berpendapat bahwa saddudz dzara-i menutup jalan menuju keburukan merupakan bentuk keutamaan saja bukan suatu kewajiban, karena dalam hadits ini, pertama kali yang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam larang adalah duduk-duduk di tempat tersebut guna memberhentikan mereka dari hal itu. Lalu ketika para sahabat mengatakan โ€œkami perlu duduk-dudukโ€, barulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tujuan pokok dari larangan beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga diketahuilah, bahwa larangan yang pertama kali itu adalah untuk mengarahkan kepada yang lebih baik. Dari sini pula diambil kaidah, bahwa mencegah keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan kebaikanโ€™.โ€ Fathul Bari, 5/135.Imam an Nawawi rahimahullah berkata,โ€Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah mengisyaratkan tentang alasan larangan beliau, bahwa hal itu dapat menjerumuskan kepada fitnah dan dosa ketika ada para wanita yang bukan mahramnya atau selainnya yang melintasi mereka, dan bisa berlanjut hingga memandang ke arah wanita-wanita tersebut secara bebas, atau membayangkannya, berprasangka buruk terhadap wanita-wanita tersebut, atau terhadap setiap orang yang lewat. Dan di antara bentuk mengganggu atau menyakiti manusia adalah menghina mengejek orang yang lewat, berbuat ghibah menggunjingya atau yang lainnya, atau terkadang tidak menjawab salam mereka, tidak melakukan amar maโ€™ruf nahi mungkar, serta alasan-alasan lainnya yang bila dia berada di rumah dapat selamat dari hal-hal seperti itu. Termasuk menyakiti orang lain pula bila mempersempit jalan orang-orang yang ingin lewat, atau menghalangi para wanita, atau yang lainnya yang ingin keluar menyelesaikan kebutuhan mereka dikarenakan ada orang-orang yang duduk di tepi jalananโ€ฆโ€ Syarah Shahih Muslim, 14/120.Tentang โ€œmenundukkan menahan pandanganโ€, Allah Subhanahu wa Taโ€™ala telah berfirman ู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูŠูŽุบูุถูู‘ูˆุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธููˆุง ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู…ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฒู’ูƒูŽู‰ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุตู’ู†ูŽุนููˆู†ูŽ. ูˆู‚ูู„ู’ ู„ูู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ูŠูŽุบูุถูุถู’ู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑูู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽูŠูŽุญู’ููŽุธู’ู†ูŽ ููุฑููˆุฌูŽู‡ูู†ู‘ูŽ โ€ฆ..Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuatโ€. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman โ€œHendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya โ€ฆโ€ [an Nur/24 30-31].Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Saโ€™di rahimahullah mengatakan tentang ayat tersebut,โ€Yakni, bimbinglah kaum Mukminin, dan katakan kepada mereka yang memiliki iman, bahwa di antara yang dapat mencegah mereka terjatuh ke dalam perkara yang merusak iman adalah dengan menundukkan menahan pandangan mereka dari melihat aurat, para wanita yang bukan mahram dan lelaki amrad yang berparas elok, yang dikhawatirkan bisa berpotensi menimbulkan fitnah syahwat bila memandangnya. Demikian pula perhiasan dunia yang dapat memfitnah dan menjerumuskan ke dalam laranganโ€ฆโ€Beliau juga mengatakan,โ€Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannyaโ€ฆ,โ€™ yakni dari melihat aurat, para lelaki bukan mahram dengan syahwat dan pandangan lain yang dilarang โ€ฆโ€[4]Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali Radhiyallahu anhu ูŠูŽุง ุนูŽู„ููŠู‘ู ู„ูŽุง ุชูุชู’ุจูุนู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุธู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุธู’ุฑูŽุฉูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุฃููˆู„ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽุชู’ ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉูWahai Ali, jangan kamu iringi pandangan dengan pandangan lain, dibolehkan bagimu yang pertama saja sementara yang kedua tidak boleh.[5]Maksud pandangan yang pertama adalah yang tak disengaja, statusnya dimaafkan dan tak berdosa. Adapun pandangan kedua adalah yang disengaja yang kafful adzaโ€™ tidak mengganggu dan menyakiti orang -dengan ucapan maupun perbuatan-, maka merupakan salah satu ciri penting seorang muslim sejati, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู„ูู…ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ู„ูุณูŽุงู†ูู‡ู ูˆูŽ ูŠูŽุฏูู‡ูMuslim yang sempurna adalah yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lidahnya dan tangannya. [HR Muslim dari Jabir Radhiyallahu anhu]Dan kafful adzaโ€™ termasuk salah satu bentuk akhlak bin al Mubarak, ketika mensifati tentang akhlak yang mulia, ia berkata ู‡ููˆูŽ ุจูŽุณู’ุทู ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฐู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽูƒูŽูู‘ู ุงู„ุฃูŽุฐูŽู‰.Yaitu bermuka manis, memberi kebaikan dan tidak mengganggu menyakiti terhadap orang lain. [Diriwayatkan oleh at Tirmidzi, hadits no. 2005].Berkaitan dengan โ€œmenjawab salamโ€, itu merupakan kewajiban, dan hendaknya menjawab dengan jawaban yang serupa, atau yang lebih baik sebagaimana dalam firman Allah Subhnaahu wa Taโ€™ala,ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุญููŠู‘ููŠู’ุชูู…ู’ ุจูุชูŽุญููŠู‘ูŽุฉู ููŽุญูŽูŠู‘ููˆุง ุจูุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุฏู‘ููˆู‡ูŽุงDan jika kamu diberi suatu penghormatan salam, maka balaslah penghormatan salam itu dengan yang lebih baik, atau balaslah ia dengan yang serupaโ€ฆ[6] [an Nisaa/4 86].Jadi, menjawab salam adalah kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim yang memberi salam kepadanya. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ุญูŽู‚ู‘ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ููู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ู ุฎูŽู…ู’ุณูŒ ุฑูŽุฏู‘ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽ ุนููŠูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุฑููŠุถู ูˆูŽ ุงุชู‘ูุจูŽุงุนู ุงู„ู’ุฌูŽู†ูŽุงุฆูุฒู ูˆูŽ ุฅูุฌูŽุงุจูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูŽุนู’ูˆูŽุฉู ูˆูŽ ุชูŽุดู’ู…ููŠู’ุชู ุงู„ู’ุนูŽุงุทูุณูHak seorang muslim atas muslim yang lain ada lima. Yaitu menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi undangan dan mendoโ€™akan yang bersin. [Muttafaqun alaihi, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]Tentang โ€œmemerintahkan kepada yang maโ€™ruf dan mencegah dari yang mungkarโ€, maka Allah Subhanahu wa Taโ€™ala telah memerintahkannya dalam firmanNya ูˆูŽู„ู’ุชูŽูƒูู† ู…ู‘ูู†ู’ูƒูู… ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŒ ูŠู‘ูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ูˆูŽูŠูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽูŠูŽู†ู’ู‡ูŽูˆู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ูƒูŽุฑูุŒ ูˆูŽุฃููˆู„ูŽู€ุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ููู’ู„ูุญููˆู†ูŽDan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang maโ€™ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. [Ali Imran/3 104].Dan di antara wasiat Luqman kepada anaknya ูŠูŽุง ุจูู†ูŽูŠู‘ูŽ ุฃูŽู‚ูู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุฃู’ู…ูุฑู’ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุงู†ู’ู‡ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽHai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamuโ€ฆ [Luqman/31 17].Merealisasikan amar maโ€™ruf nahi mungkar merupakan salah satu sebab utama diperolehnya kebaikan dan kejayaan oleh pendahulu umat ini para sahabat Radhiyallahu anhum, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Taโ€™ala ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑูŽ ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ุฃูุฎู’ุฑูุฌูŽุชู’ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุชูŽุฃู’ู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุชูŽู†ู’ู‡ูŽูˆู’ู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุชูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‡ูKamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maโ€™ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah โ€ฆ [Ali Imran/3 110].Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda ูˆูŽุฃูŽู…ู’ุฑูŒ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ ูˆูŽู†ูŽู‡ู’ูŠูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉูŒ dan menyuruh manusia kepada yang baik adalah shadaqah, dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar adalah shadaqah โ€ฆ [HR Muslim, hadits no. 1674].Demikianlah hak-hak dan adab-adab ketika seseorang duduk-duduk di tepi jalanan, atau yang semisalnya. Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan adab-adab atau hak-hak jalan yang lain sebagai berikut Berkata yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Thalhah Radhiyallahu anhu.[7]Memberi petunjuk jalan kepada musafir dan menjawab orang yang bersin jika dia bertahmid[8]sebagaimana terkandung dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu orang yang kesusahan dan menunjukkan jalan bagi orang yang tersesat, sebagaimana tertuang dalam hadits Umar Radhiyallahu anhu dalam riwayat Abu Dawud,[9] demikian juga dalam Mursal Yahya bin Yaโ€™mur dan dalam riwayat al orang yang terzhalimi dan menebarkan salam, seperti dijelaskan dalam hadits al Barraโ€™ Radhiyallahu anhu dalam riwayat Ahmad dan At orang yang membawa beban berat, sebagaimana tertuang dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dalam riwayat al berdzikir kepada Allah, sebagaimana teriwayatkan dalam hadits Sahl bin Hanif Radhiyallahu anhu dalam riwayat ath orang yang bingung, seperti yang terpaparkan dalam hadits Wahsyi bin Harb Radhiyallahu anhu dalam riwayat Ath Ibnu Hajar mengatakan โ€œSemua yang terdapat dalam hadits-hadits tersebut ada empat belas adabโ€. Fathul Bari, 11/13.Hal-hal yang tersebut di atas mengandung faidah tentang kesempurnaan Islam yang mengajarkan kepada umatnya tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk yang berkaitan dengan hak-hak jalan dan adab-adab ketika duduk-duduk di tempat-tempat yang biasa dilewati oleh khalayak manusia. Sekaligus menunjukan, kebaikan dan keindahan ajaran Islam, yakni apabila hal-hal di atas diamalkan oleh manusia, niscaya akan mendatangkan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan mereka di aโ€™ Bari bi Syarhi Shahih al Bukhari, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Shahih Muslim, oleh Al Imam an Abu at al Imam al Jamiโ€™ ash Shaghir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Ishabah fi Tamyiz ash Shahabah, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Bidayah wan Nihayah, oleh al Imam Ibnu at Tahdzib, oleh al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo โ€“ Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Lihat al Ishabah 3/66, al Bidayah wan Nihayah 9/4 dan at Taqrib, hlm. 232 urutan no. 2253. [2] Syarh Shahih Muslim, 14/86 [3] Hadits shahih, riwayat Ahmad 1/384 dan 432 dan Abu Dawud no. 4337 dari Abdullah bin Masโ€™ud. [4] Taisir al Karim ar Rahman fi Tafsir al Kalam al Mannan, tafsir QS an Nur/24 ayat 30-31 [5] HR Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidzi, dan al Hakim dari Buraidah Radhiyallahu anhu. Dihasankan derajatnya oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Jamiโ€™ ash Shaghir, no. 7953 [6] Yakni, misalnya bila ada seseorang memberi salam dengan mengucapkan โ€œassalamuโ€™alaikumโ€, maka minimal, kita jawab dengan bentuk serupa, yaitu โ€œwaโ€™alaikumussalamโ€, atau dengan yang lebih baik, yaitu โ€œwaโ€™alaikumussalam warahmatullahโ€, dan seterusnya. [7] Shahih Muslim, no. 2161. [8] Yakni, bila seorang yang bersin mengucapkan โ€œalhamdulillahโ€, maka yang mendengar wajib mendoโ€™akannya dengan mengucapkan โ€œyarhamukallahโ€ โ€“semoga Allah merahmatimu. [9] Hadits no. 4181.